GEOFISIKA S2
Melacak Sesar Aktif di Sulawesi : Jaringan GNSS Berbiaya Rendah Baru di Sulawesi Mengukur Pergerakan Kerak Bumi
Administrator · 2 September 2026

Melacak Sesar Aktif di Sulawesi : Jaringan GNSS Berbiaya Rendah Baru di Sulawesi Mengukur Pergerakan Kerak Bumi

Makassar, 2 September hingga 19 2026 – Sebelas stasiun Global Navigation Satellite System (GNSS) berbiaya rendah telah dibangun melalui kolaborasi antara Universitas Hasanuddin (Unhas), Earth Observatory of Singapore (EOS) di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, dan Badan Informasi Geospasial (BIG). Jaringan ini dikembangkan untuk melakukan pengamatan secara kontinu terhadap deformasi kerak bumi di sepanjang sistem Sesar Matano dan Sesar Poso.

Stasiun-stasiun GNSS tersebut dipasang pada 9–19 September 2026 sebagai bagian dari jaringan kolaboratif Sulawesi Low-Cost GNSS Network (SuNeO). Jaringan ini mencakup wilayah Kabupaten Luwu Timur, Morowali, Morowali Utara, dan Poso, dengan fokus pada dua sistem sesar aktif utama, yaitu Sesar Matano dan Sesar Poso. Sebelas stasiun baru tersebut juga melengkapi delapan stasiun CORS milik BIG yang telah tersedia di wilayah tersebut.

Pengembangan jaringan ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan pengamatan deformasi kerak bumi di Sulawesi. Wilayah Sulawesi memiliki kondisi tektonik yang kompleks dan telah mengalami beberapa kejadian gempa signifikan, termasuk gempa dan tsunami Palu 2018 serta rangkaian gempa Poso pada Juli 2025. Dibandingkan dengan beberapa wilayah lainnya, sistem Sesar Matano dan Sesar Poso masih memiliki keterbatasan dalam hal pengamatan geodetik secara kontinu.

Sebelas stasiun GNSS baru tersebut berada di Karebbe, Kalosi, dan Mahalona di Luwu Timur; Siumbatu di Morowali; Tinompo dan Lanumor di Morowali Utara; serta Singkona, Taripa, Panjo, Meko, dan Wataumeta di Poso. Setiap stasiun menggunakan penerima dan antena GNSS berbiaya rendah, monumen yang dibuat secara lokal, sistem catu daya, serta komunikasi untuk mendukung pengamatan secara berkelanjutan. Data yang diperoleh akan digunakan untuk mempelajari kecepatan pergerakan kerak, kinematika sesar, deformasi, dan regangan di wilayah tersebut. Dalam pelaksanaannya, kegiatan pemasangan stasiun juga melibatkan masyarakat setempat. Selama kampanye lapangan yang berlangsung sekitar sepuluh hari, stasiun GNSS ditempatkan di berbagai fasilitas lokal, seperti sekolah, kantor desa, fasilitas kesehatan, dan lokasi lainnya. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan pengamatan dan pemeliharaan stasiun dalam jangka panjang.

Dr. Muhammad Taufiq Rafie dari Universitas Hasanuddin menyampaikan bahwa SuNeO mempertemukan peneliti dan institusi dengan keahlian yang saling melengkapi. Jaringan tersebut diharapkan dapat membantu mengamati pergerakan kerak dan regangan di sepanjang Sesar Matano dan Sesar Poso, sekaligus memperkuat dasar ilmiah dalam memahami bahaya gempa dan mendukung upaya peningkatan ketangguhan masyarakat

Pengembangan jaringan ini merupakan bagian dari kerja sama jangka panjang antara Indonesia dan Singapura melalui proyek “Build a Low-Cost GNSS Network to Study Tectonic Deformation in Sulawesi”. Dalam kolaborasi tersebut, Universitas Hasanuddin berkontribusi melalui keahlian geofisika dan tektonik regional, koordinasi kegiatan lapangan, kemitraan dengan masyarakat lokal, interpretasi ilmiah, serta keterlibatan peneliti dan mahasiswa Indonesia. Sementara itu, EOS–NTU berkontribusi dalam bidang geodesi GNSS, perangkat keras dan perangkat lunak, instrumentasi, analisis deformasi, pemrosesan data, penelitian, dan pelatihan. BIG mendukung melalui keahlian geodesi, jaringan CORS, serta referensi geospasial.

Menurut Iwan Hermawan, PhD, dari EOS–NTU, jaringan ini diharapkan dapat menyediakan kemampuan pengamatan jangka panjang sekaligus memperkuat kerja sama penelitian. Data deret waktu yang diperoleh dari stasiun-stasiun tersebut juga dapat membuka peluang bagi penelitian dan pengembangan kapasitas mahasiswa dalam bidang geodesi dan tektonik.

Ke depan, sebelas stasiun SuNeO akan dikombinasikan dengan stasiun CORS BIG untuk membentuk jaringan pengamatan deformasi regional yang lebih terintegrasi. Pengamatan kontinu, pemeliharaan stasiun, pengendalian kualitas data, dan analisis deret waktu akan menjadi bagian penting dari kegiatan selanjutnya. Data GNSS juga akan diintegrasikan dengan informasi seismologi, geologi, dan geofisika lainnya untuk memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai aktivitas tektonik Sulawesi.

Melalui jaringan ini, pergerakan kerak bumi pada skala milimeter diharapkan dapat direkam secara lebih baik sehingga memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai deformasi Sulawesi dan kondisi tektonik yang berkaitan dengan potensi bahaya gempa.