Mahasiswa Administrasi Publik Unhas Belajar Langsung di Makassar Command Center”


MAKASSAR – Suasana berbeda terasa di ruang Makassar Command Center (MCC), Kamis (11/6/2026). Puluhan mahasiswa tampak duduk rapi, mata tertuju pada layar-layar besar yang menampilkan ribuan data pengaduan warga secara real-time. Mereka bukan sekadar penonton. Mereka adalah peserta mata kuliah Manajemen Publik , Program Studi Sarjana Administrasi Publik, Departemen Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin. Mereka datang untuk belajar langsung bagaimana tata kelola publik dijalankan secara digtial di Kota Makassar.
Sebanyak 36 mahasiswa didampingi Dosen Pengampu, Dr. Ishak Salim, disambut hangat oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Makassar, Dr. Muhammad Roem, beserta jajarannya. Kunjungan selama tiga jam ini menjadi ruang dialog antara teori di kelas dan praktik di lapangan.
Di hadapan mahasiswa, Dr. Muhammad Roem menegaskan bahwa transformasi digital di Kota Makassar tidak hanya berorientasi pada efisiensi birokrasi. Lebih dari itu, ia ingin memastikan bahwa teknologi benar-benar mendorong partisipasi warga sebagai mitra pemerintah.
"Makassar Command Center adalah bukti bahwa layanan publik tidak bisa berjalan sendiri. Kami membangun jaringan kolaborasi lintas SKPD, masyarakat, dan komunitas digital. Setiap laporan warga—baik yang viral maupun tidak—memiliki posisi yang sama untuk diselesaikan dengan cepat. Tidak boleh ada lagi diskriminasi dalam penanganan," tegasnya.
Ia juga memaparkan bahwa MCC saat ini mengelola ribuan pengaduan setiap harinya melalui berbagai kanal, mulai dari aplikasi Sombere, Lontara, media sosial, hingga call center 112. Data dari berbagai dinas seperti Sosial, Kependudukan, dan Kesehatan terintegrasi dalam satu dashboard, sehingga penyelesaian masalah warga menjadi lebih cepat dan terukur.

Lebih lanjut, Dr. Ishak Salim, sebagai dosen pengampu mata kuliah Manajemen Publik, menyampaikan bahwa studi lapang di Diskominfo Makassar untuk memberikan pengalaman kepada mahasiswa bagaimana praktik manajemen publik dilaksanakan dengan teknologi digital. Selain itu, pengelolaan publik ini dilakukan dengan kolaborasi lintas sektor.
"Kami mempelajari New Public Governance di kelas. Tapi hari ini, mahasiswa melihat langsung bagaimana pemerintah kota membangun jaringan, mengelola pengaduan warga, dan menjamin bahwa suara warga biasa didengar. Ini bukan sekadar kunjungan. Ini adalah wujud nyata kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dan Pemerintah Kota Makassar untuk menciptakan layanan publik yang lebih mengutamakan partisipasi dan berdampak," ujar Dr. Ishak.
Dr Ishak juga menyampaikan apresiasinya terhadap keterbukaan Diskominfo. Mahasiswa diberi kebebasan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis, mulai dari prioritas laporan, kesenjangan digital, hingga keamanan data pribadi.
Dalam sesi diskusi yang berlangsung hangat, mahasiswa tidak ragu melontarkan pertanyaan mendalam. Salah satunya menyoroti bagaimana Diskominfo menyaring ribuan laporan harian tanpa membeda-bedakan antara keluhan warga biasa dan isu yang sedang viral di media sosial.
Dr. Muhammad Roem menjawab dengan tegas bahwa sistem prioritas ditentukan berdasarkan tingkat urgensi dan dampak, bukan popularitas. "Semua laporan setara. Yang membedakan adalah seberapa darurat dan seberapa luas dampaknya terhadap masyarakat," jelasnya.
Pertanyaan lain menyangkut kesenjangan digital. Diskominfo mengakui bahwa tidak semua warga melek teknologi. Oleh karena itu, pemerintah menyediakan mekanisme pendampingan melalui ketua RT, RW, dan perangkat kelurahan untuk membantu warga yang kesulitan mengakses layanan digital. Laporan juga tetap bisa disampaikan secara offline.
Soal keamanan data, Diskominfo mengakui tantangan kebocoran data masih ada. Namun, mereka telah menerapkan sistem enkripsi dan perlindungan data pribadi secara berlapis. Edukasi kepada masyarakat juga terus digalakkan agar lebih berhati-hati dalam membagikan data pribadi.
Di akhir kunjungan, Dr. Ishak menyampaikan kesan mendalam atas sambutan dan keterbukaan yang diberikan oleh Diskominfo Makassar.
"Kami berterima kasih kepada Pak Dr. Roem dan jajaran. Semoga kolaborasi ini tidak berhenti di sini. Kami berharap ke depan ada ruang untuk penelitian bersama, magang mahasiswa, bahkan pengembangan kebijakan publik yang lebih partisipatif. Ini adalah awal dari kemitraan yang baik antara dunia akademik dan pemerintahan," pungkasnya.
Kunjungan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara Universitas Hasanuddin dan Pemerintah Kota Makassar tidak hanya sebatas seremoni. Lebih dari itu, ia adalah fondasi untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berpihak pada masyarakat.