Kolaborasi Departemen Sastra Inggris, HPI dan UPT Layanan Bahasa Unhas Hadirkan Guest Lecture tentang Sworn Translation di Era AI
Kolaborasi HPI dan UPT Layanan Bahasa Unhas Hadirkan Guest Lecture tentang Sworn Translation di Era AI
Makassar, 6 Maret 2026 — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang, termasuk dunia penerjemahan. Menjawab dinamika tersebut, telah diselenggarakan guest lecture bertajuk “Sworn Translation 2.0 in the Age of AI: Who Guarantees Accuracy, and Should We Fear Being Replaced?” pada 6 Maret 2026, melalui kerja sama antara Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) dan UPT Layanan Bahasa Universitas Hasanuddin.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Daniel Krausse, B.A., M.A. sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Dr. Krausse mengulas secara kritis posisi penerjemah tersumpah di tengah semakin masifnya penggunaan teknologi AI dalam praktik penerjemahan. Tema ini menjadi sangat relevan karena munculnya pertanyaan mendasar mengenai siapa yang menjamin akurasi terjemahan, terutama untuk dokumen resmi, serta apakah kehadiran AI benar-benar menjadi ancaman bagi profesi penerjemah manusia.
Melalui kuliah tamu ini, peserta diajak untuk memahami bahwa meskipun AI menawarkan kecepatan dan efisiensi, aspek ketepatan makna, tanggung jawab hukum, sensitivitas budaya, dan validitas dokumen resmi tetap memerlukan peran manusia yang kompeten. Dalam konteks penerjemahan tersumpah, akurasi tidak hanya menyangkut kesepadanan bahasa, tetapi juga menyangkut keabsahan, kepercayaan, dan tanggung jawab profesional.
Kerja sama antara HPI dan UPT Layanan Bahasa Universitas Hasanuddin dalam penyelenggaraan kegiatan ini menunjukkan komitmen bersama untuk menghadirkan ruang diskusi akademik yang responsif terhadap tantangan zaman. Kegiatan ini juga menjadi wadah penting bagi mahasiswa, dosen, praktisi bahasa, dan penerjemah untuk merefleksikan masa depan profesi penerjemahan di era digital.
Dengan terselenggaranya guest lecture ini, diharapkan peserta memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai transformasi dunia penerjemahan, khususnya penerjemahan tersumpah, serta semakin siap menghadapi perubahan yang dibawa oleh teknologi AI. Alih-alih sekadar takut tergantikan, para pelaku profesi justru diajak untuk melihat AI sebagai tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat kualitas, etika, dan profesionalisme dalam bidang penerjemahan.