SARJANA TERAPAN TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN PANGAN
Admin Teknologi Produksi Tanaman Pangan · 28 Juli 2025

Mahasiswa Vokasi Unhas Juara 1 Nasional Lomba Inovasi Pertanian GOWA

Widya Amalia, Syahri Ramadani, dan Nur Rahma Yasin, pemenang Lomba Inovasi Nasional Pertanian Dies Natalis ke-7 Polbangtan Gowa. Foto: Dokumentasi Pribadi

Makassar, 27 April 2025 - Tim mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin (Unhas) sukses menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Mereka meraih Juara 1 pada Lomba Inovasi Nasional yang digelar dalam rangka Dies Natalis ke-7 Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa.

Tim yang beranggotakan Widya Amalia (angkatan 2022), Syahri Ramadani, dan Nur Rahma Yasin (angkatan 2023) ini mengusung inovasi BioTray Semai Bernutrisi Biodegradable, sebuah media semai ramah lingkungan berbahan limbah pertanian. Mereka dibimbing oleh dosen Program Studi Teknologi Produksi Tanaman Pangan, Irwan, S.TP., M.T.P.

Lomba yang dilaksanakan secara daring sejak 9 Juli hingga 26 Juli 2025 tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui seleksi proposal dan presentasi daring dan Luring, hanya 10 finalis yang terpilih untuk memperebutkan gelar juara. Produk inovatif dari tim Unhas berhasil mengungguli karya finalis lain yang berasal dari Polbangtan Malang, Medan, Yogyakarta Magelang (Yoma), Bogor, hingga Gowa. Menurut ketua tim, Widya Amalia, ide BioTray Semai berawal dari pengamatan lapangan terhadap dua masalah besar di pertanian: limbah plastik dari polybag dan tray semai yang sulit terurai, serta limbah organik seperti kulit jagung dan sekam padi yang belum dimanfaatkan secara optimal. “Petani sering mengeluh tray plastik cepat rusak dan merusak akar saat pindah tanam. Di sisi lain, kulit jagung dan sekam bakar jumlahnya melimpah tapi terbuang begitu saja. Kami mencoba menggabungkan masalah ini menjadi solusi,” ungkap Widya.

BioTray Semai terbuat dari kulit jagung hasil fermentasi mikroorganisme lokal (MOL), sekam bakar, dan perekat alami gum xanthan. Tray ini dapat terurai di tanah, menambah nutrisi, serta dapat ditanam langsung bersama bibit tanpa mengganggu akar, sehingga mengurangi stres transplantasi pada tanaman. Widya meyakini inovasi ini memiliki prospek besar bagi pertanian berkelanjutan. Selain ramah lingkungan, bahan bakunya mudah didapat, biaya produksi rendah, dan berpotensi menjadi peluang usaha hijau. “Kalau ada alat cetak dan pengering khusus, kualitasnya bisa lebih konsisten dan siap masuk pasar luas,” katanya. Keberhasilan ini tak lepas dari peran dosen pembimbing. Pak Irwan, misalnya, memberi masukan untuk mengganti perekat tapioka dengan gum xanthan agar tray lebih kokoh. “Bimbingan beliau sangat membantu kami melewati tantangan produksi manual, apalagi pengeringan yang bergantung cuaca,” ujar Widya.

Menariknya, ide BioTray Semai lahir dari tugas mata kuliah Kewirausahaan. Melihat masalah di lapangan, Widya mengajak dua rekannya yang memiliki ketertarikan pada pertanian berkelanjutan untuk mewujudkan ide ini. “Awalnya hanya tugas kuliah, tidak menyangka bisa sejauh ini,” ucapnya. Di akhir wawancara, Widya berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu berinovasi. “Mulailah dari masalah di sekitar, cari solusi sederhana tapi berdampak. Prosesnya memang melelahkan, tapi pengalaman dan manfaat yang dihasilkan jauh lebih berharga,” tutupnya.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas, kerja sama tim, dan dukungan pembimbing dapat melahirkan inovasi nyata yang bermanfaat bagi pertanian Indonesia yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.