Alumni dan Civitas Akademika Sastra Indonesia FIB Unhas Silaturahmi di Kebun Denassa
GOWA-Alumni dan civitas akademika Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar silaturahmi di Kebun Denassa, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sabtu (17/1/2026). Pertemuan lintas generasi ini menjadi ruang kolaborasi literasi sekaligus ajang memperkuat jejaring akademik.
Hadir dalam kegiatan tersebut Dekan FIB Unhas Prof Andi Muhammad Akhmar; Ketua Departemen Sastra Indonesia, Muslimat; Sekretaris Departemen, Indarwati; serta sejumlah guru besar, di antaranya Prof Nurhayati, Prof AB Takko, Prof Munira Hasjim, dan Prof Kaharuddin. Turut bergabung Ketua Ikatan Alumni Sastra Indonesia M Nawir, mantan Ketua IMSI sekaligus eks Ketua KPU Gowa Muhtar Muis, Direktur Perusda Maros Saharuddin Ridwan, Ketua IMSI Zaki, serta dosen dan alumni lainnya.
Ruang Kolaborasi
Pendiri Rumah Hijau Denassa (RHD), Darmawan Denassa mengaku sengaja mengajak dosen, mahasiswa, dan alumni Sastra Indonesia berkumpul di Denassa Botanical Garden (DBG). Tujuannya sederhana namun bermakna: membangun kerja kolaboratif antara akademisi dan alumni.
Sebagai alumni Sastra Indonesia, Darmawan menuturkan bahwa pengalaman kuliah di jurusan tersebut membentuk dirinya hingga kini aktif dalam konservasi. Sejak 2007, ia merintis RHD di atas bekas galian batu bata. Kemudian, pada 2020, dia memperluas kawasan konservasinya sebagai Denassa Botanical Garden, sebelumnya bernama Sawahku.
Berbeda dengan kawasan konservasi lain, pengunjung di Kebun Denassa tidak hanya menikmati suasana hijau, tetapi juga belajar melalui kisah-kisah yang dituturkan langsung oleh Darmawan. Koleksi tanaman di lahan itu diberi nama dalam berbagai bahasa, merefleksikan kekayaan budaya. Hingga kini, Kebun Denassa telah dikunjungi wisatawan dari lebih 60 negara.
Darmawan juga menekankan pentingnya bahasa Indonesia yang kini menjadi bahasa ke-8 terbesar di dunia dan dipelajari di 47 negara. “Bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Melayu, meski berasal dari akar yang sama. Bahasa Indonesia berkembang luar biasa dengan varian yang kaya,” ujar penerima penghargaan Kalpataru 2021 dari KLHK ini.
Ke depan, ia merencanakan pembangunan taman tematik berbasis bahasa, mulai dari tanaman beraroma, pewarna alami, bahan perahu, tanaman lambang provinsi, hingga tanaman untuk seni ukir.
Selain itu, di lokasinya, pengunjung diajak membawa bekal sehat berbahan pangan lokal tanpa wadah plastik sekali pakai. Bahkan di kawasannya bebas asap rokok.
Peserta silaturahmi juga diajaknya berkeliling dan dikenalkan pada keanekaragaman hayati, mulai dari tanaman pangan, obat, kosmetik, hingga tanaman untuk ritual tradisi. Dia menyajikan jamuan tradisional di atas daun pisang dengan menu beras merah, sayur bening, ikan kering, dan sambal yang khas.
SUMBER FAJAR