SARJANA SASTRA INDONESIA
Kuliah Umum Sastra Indonesia FIB Unhas: Menjelajahi Budaya Tiongkok Melalui Bangunan Kuno di Kota Fengchang
Administrator · 4 Desember 2025

Kuliah Umum Sastra Indonesia FIB Unhas: Menjelajahi Budaya Tiongkok Melalui Bangunan Kuno di Kota Fengchang

 

MAKASSAR- Bangunan kuno bukan sekadar batu dan kayu, melainkan jejak hidup yang menyimpan filosofi dan peradaban. Kuliah umum Sasindo FIB Unhas kali ini membuka jendela lintas budaya, mengajak mahasiswa menelusuri makna simbolik warisan Tiongkok dari Kota Fengchang.

Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama mahasiswa inbound dari Program Studi Sastra Indonesia menggelar kegiatan akademik berskala internasional.

Sebanyak 13 mahasiswa dari Universitas Teknologi Hefei, Tiongkok, yang tengah mengikuti program pertukaran pelajar di Unhas, berpartisipasi aktif dalam kuliah umum bertajuk “Menjelajahi Budaya Tiongkok Melalui Bangunan Kuno di Kota Fengchang”.

Kegiatan ini berlangsung pagi hingga siang di Arsjad Rasyid Lecture Theatre, Selasa, 2 Desember 2025, dan dihadiri ratusan mahasiswa lintas jurusan. Kuliah umum menghadirkan Li Xiao Fang, Wakil Direktur Utama Kepariwisataan dan Pengembangan Budaya Zhong Yuan Co. Ltd., yang menyampaikan materi secara daring melalui Zoom Meeting langsung dari Kota Fengchang, Tiongkok. Dekan FIB Unhas, Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, S.S., M.Hum hadir membuka acara.

Program inbound Sasindo FIB Unhas tahun ini diikuti 13 mahasiswa dari Universitas Teknologi Hefei, Tiongkok. Kehadiran mereka menjadi bagian dari kerja sama kebahasaan yang telah lama terjalin antara Unhas dan institusi pendidikan di Tiongkok.

Ketua Departemen Sastra Indonesia FIB Unhas, Dr. Dra. Muslimat, M.Hum, menekankan bahwa kuliah umum ini bukan sekadar ruang berbagi pengetahuan, melainkan langkah memperluas jejaring budaya dan peluang akademik dengan institusi dari Tiongkok. Ia menambahkan bahwa jejaring tersebut membuka kesempatan belajar dan riset tentang budaya serta sejarah Tiongkok bagi mahasiswa Unhas.

Dekan FIB Unhas, Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, S.S., M.Hum., turut menegaskan pentingnya kegiatan lintas budaya ini. Menurutnya, pengetahuan dari masa lampau memiliki nilai yang besar. "Ini bisa memperkaya pengetahuan kita," jelasnya. Menurut dia, bangunan kuno sarat dengan filosofi yang mencerminkan ideologi dan unsur budaya, sama halnya dengan rumah Bugis yang memiliki filosofi tersendiri.

Kuliah umum ini dipandu oleh Luna (Jing Chunlu), salah satu mahasiswa inbound dari Hefei. Dalam pemaparannya, Li Xiao Fang mengajak peserta kuliah umum menjelajahi simbol-simbol budaya yang terdapat pada bangunan kuno Tiongkok.

Ia menyampaikan materi langsung dari Kuil Konfusius di Fencheng, Provinsi Shanxi, sebuah situs bersejarah yang menjadi pusat penghormatan kepada Konfusius. Ia memperkenalkan Aula Dacheng (大成殿), bangunan utama yang telah berdiri hampir 700 tahun.

Pada bagian atapnya terdapat empat hewan kecil yang melambangkan kekuatan dan keberuntungan: naga, burung phoenix, singa, dan kuda surgawi (tianma). Selain itu, ia juga menunjukkan Yuetai, panggung tempat pertunjukan upacara penghormatan atau perayaan ulang tahun Konfusius, yang memiliki fungsi mirip dengan panggung pertunjukan masa kini namun sarat dengan makna spiritual.

Li Xiao Fang menekankan filosofi pendidikan Konfusius yang tercermin dalam ukiran kayu bergambar seorang anak gembala. Ukiran tersebut melambangkan gagasan 有教无类 (You jiao wu lei)” yang berarti semua orang berhak belajar tanpa memandang status sosial. Konfusius dikenal sebagai pendiri pendidikan privat pertama di Tiongkok dengan lebih dari 3.000 murid sepanjang hidupnya.

Ia juga menyinggung kaligrafi yang terpajang di markas besar PBB bertuliskan 四海之内皆兄弟也” – “Di bawah langit, semua manusia adalah saudara.” Kalimat ini berasal dari kitab Lunyu dan mencerminkan nilai universal perdamaian serta persatuan antar peradaban.

Selain itu, Li memperlihatkan ukiran teratai dan burung air lùsī (鹭鸶) yang melambangkan doa agar seseorang lulus ujian dengan lancar. Simbol ini dikenal dengan istilah 一路科” yang berarti kelulusan berturut-turut.

Menjelang pergantian tahun 2025 ke 2026, yang dalam penanggalan tradisional Tiongkok adalah Tahun Kuda, Li memberikan doa dan harapan melalui ungkapan 当先 (melangkah paling depan), 到成功(mendapat keberhasilan seketika), dan 旗开得 (meraih kemenangan sejak awal). Ungkapan ini menjadi simbol optimisme dan keberhasilan di tahun baru.

Sebagai penutup, Li Xiao Fang memperkenalkan Gedung Kuixing (魁星楼). Dalam budaya tradisional Tiongkok, Kuixing adalah dewa yang mengurus hal-hal terkait belajar, kenaikan tingkat pendidikan, dan ujian negara. Masyarakat percaya bahwa Kuixing akan menandai nama seseorang dengan pena yang dipegangnya sebagai simbol keberhasilan akademik. Gedung Kuixing menjadi lambang harapan agar para pelajar meraih kesuksesan dalam dunia pendidikan, sebuah pesan yang relevan bagi mahasiswa Unhas yang hadir.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya mahasiswa lintas jurusan yang hadir dan aktif mengikuti jalannya dialog. Peserta yang bertanya juga mendapatkan hadiah yang dikirim langsung dari Tiongkok.

Agenda bertajuk “Menjelajahi Budaya Tiongkok Melalui Bangunan Kuno di Kota Fengchang” menjadi bukti nyata komitmen Sastra Indonesia FIB Unhas dalam memperkuat kerja sama internasional, khususnya dengan institusi pendidikan di Tiongkok. Selain memperkaya wawasan lintas budaya, sekaligus mempererat hubungan akademik Indonesia–Tiongkok. (il/*)

Baca berita lainnya: Identitas

FAJAR, 3 Desember 2025

(Hal. 11)