SARJANA SASTRA INDONESIA

Bahasa Remaja di Era Digital: Humaniora Digital Ungkap Dinamika Linguistik Generasi Z

Blog Post Image
Administrator | 03 Nov, 2025

 

MAKASSAR - Bahasa remaja di era digital terus berkembang sebagai bentuk ekspresi dan identitas kelompok. Humaniora Digital membuka cara baru untuk memahami dinamika linguistik generasi Z melalui analisis data kebahasaan.

Guru Besar Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas, Prof Munira Hasjim menyoroti fenomena perubahan bahasa Indonesia di kalangan remaja sebagai gejala linguistik yang kompleks dan menarik untuk dikaji melalui pendekatan Humaniora Digital.

Menurut eks Ketua Departemen Sastra Indonesia Unhas ini, Humaniora Digital adalah bidang interdisipliner yang menggabungkan teknologi komputasi dengan studi humaniora, memungkinkan analisis data kebahasaan dalam skala besar yang sebelumnya sulit dilakukan secara manual.

"Bahasa yang digunakan remaja di media sosial menjadi objek kajian yang kaya," ujarnya saat dialog kebahasaan dan kesastraan bertajuk “Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Perspektif Humaniora Digital” di Aula Mattulada, FIB Unhas dalam memperingati Bulan Bahasa, Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB Unhas), Senin, 3 November.

Kegiatan itu menghadirkan dua narasumber lainnya yaitu, Martin Suryajaya dari Institut Kesenian Jakarta, dan Toha Machsum selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan. 

Kata dia, platform digital seperti media sosial dan aplikasi pesan instan menjadi ruang utama bagi generasi Z untuk mengekspresikan diri, menciptakan bentuk komunikasi yang dinamis, inovatif, dan terus berevolusi. Istilah seperti “anjir”, “bacot”, “bussin’”, “red flag”, dan “green flag” bukan sekadar tren, melainkan penanda identitas dan solidaritas kelompok. Bahasa gaul remaja bersumber dari bahasa daerah, bahasa Indonesia, bahasa asing, dan kombinasi ketiganya, menghasilkan neologisme yang memperkaya kosakata sehari-hari sekaligus menantang kompetensi bahasa formal.

Contoh ekstrem seperti “ndk brtemanki” menunjukkan pelanggaran tata bahasa yang dapat melemahkan struktur bahasa Indonesia yang baku. Di sisi lain, pergeseran dari teks murni ke bentuk multimodal—yang menggabungkan teks, emoji, dan gambar—melahirkan bentuk literasi baru yang lebih ekspresif dan kontekstual.

Dalam konteks penelitian, Humaniora Digital memungkinkan analisis bank data kebahasaan (big data) dari platform digital menggunakan alat komputasi. Beberapa metode yang digunakan meliputi analisis teks otomatis untuk mengidentifikasi pola kata, frekuensi slang, dan perubahan struktur kalimat; pemetaan jaringan sosial untuk melacak penyebaran dan adopsi istilah baru dalam komunitas daring; serta visualisasi data untuk menyajikan tren penggunaan bahasa melalui infografis dan representasi visual lintas waktu dan platform.

Dia juga mengungkap beberapa karakteristik linguistik khas remaja digital, seperti campur kode yang memadukan bahasa Inggris, Indonesia, dan partikel lokal dalam ungkapan seperti “first acound mo” atau “ndk brtemanki di secondd kuu”. Selain itu, dia melihat penggunaan akronim dan singkatan seperti “mager” (malas gerak), “bucin” (budak cinta), dan “japri” (jalur pribadi) sebagai strategi efisiensi komunikasi. Selain itu, komunikasi multimodal melalui emoji, stiker, dan GIF menjadi sarana ekspresi yang memperkuat pesan dalam interaksi digital.

Prof Munira pun kembali menekankan pentingnya strategi pemertahanan bahasa Indonesia di ruang digital. Beberapa langkah yang disarankan antara lain regulasi penggunaan bahasa Indonesia di platform digital resmi, kampanye kreatif di media sosial, pembelajaran bahasa berbasis literasi digital dan konteks aktual, serta pendampingan orang tua dan tanggung jawab remaja dalam berbahasa sesuai etika dan konteks. (*)

sebelumnya
Bulan Bahasa 2025: Dialog Kebahasaan dan Kesastraan
selanjutnya
VIDEO PROFIL UNIVERSITAS HASANUDDIN