Mahasiswa Tiongkok Menggali Kejayaan Gowa: Sejarah, Budaya, dan Perlawanan
Makassar — Mahasiswa asal Tiongkok yang kini tengah menempuh studi di Departemen Sastra Indonesia melakukan perjalanan budaya ke sejumlah situs bersejarah Kerajaan Gowa pada Minggu, 30 November 2025. Kegiatan yang dimulai pukul 09.30 Wita ini berlangsung selama satu hari penuh, mengunjungi empat titik utama: Taman Makam Raja-Raja Gowa, Museum Balla Lompoa, Benteng Somba Opu, dan Benteng Rotterdam. Didampingi mahasiswa Sastra Indonesia, rombongan terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian acara yang sarat nilai sejarah dan kebudayaan Sulawesi Selatan.
Perhentian pertama adalah Taman Makam Raja-Raja Gowa, sebuah kompleks pemakaman bersejarah yang menjadi tempat peristirahatan raja-raja Gowa, termasuk Sultan Hasanuddin, tokoh besar yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Di lokasi ini, para mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai silsilah keluarga kerajaan serta perjalanan kepahlawanan Sultan Hasanuddin.
Pemandu menjelaskan bagaimana Sultan Hasanuddin memimpin rakyat Gowa dalam perlawanan sengit terhadap VOC pada abad ke-17. Kisah keberanian dan keteguhan sang sultan dalam mempertahankan kedaulatan wilayah menjadi perhatian khusus para peserta. Banyak mahasiswa Tiongkok yang mencatat dengan saksama cerita mengenai strategi perang hingga momen wafatnya sang pejuang, yang kemudian diabadikan sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia. Kunjungan ini menjadi pembuka yang kuat untuk memahami akar sejarah perlawanan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap kolonialisme.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Balla Lompoa, museum dan bekas istana Kerajaan Gowa yang terletak di Kabupaten Gowa. Setibanya di Balla Lompoa, mereka disambut meriah dengan tarian Empat Etnis—Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja—yang ditampilkan dengan penuh warna. Para penari mengenakan busana tradisional khas masing-masing etnis sehingga memperlihatkan keberagaman budaya Sulawesi Selatan.
Tak berhenti di sana, tiga lelaki gagah berbusana seragam merah keberanian mempertontonkan aksi permainan sempak takraw, olahraga tradisional yang memukau para mahasiswa. Tepuk tangan riuh terdengar ketika bola rotan dilayangkan melalui gerak akrobatik yang lincah dan energik.
Acara penyambutan tersebut dihadiri langsung oleh perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Gowa. Dalam sambutannya, Kepala Dinas menyampaikan bahwa Balla Lompoa merupakan bukti kebesaran Kerajaan Gowa pada masa lampau. Ia menjelaskan bahwa museum ini kini menjadi bagian dari cagar budaya yang bertujuan melindungi berbagai peninggalan kerajaan setelah Gowa resmi bergabung dalam wilayah Indonesia pada tahun 1959.
Menurutnya, lebih dari 800 koleksi peninggalan kerajaan tersimpan dan dipamerkan di museum ini, mulai dari senjata, pakaian kebesaran raja dan ratu, baju bodo’, serta replika mahkota raja. “Mahkota aslinya sangat sakral,” ujar beliau. “Hanya boleh dibuka sekali setahun, tepat pada hari Iduladha.”
Setelah sambutan dan waktu istirahat singkat, para mahasiswa diajak berkeliling melihat seluruh koleksi. Di salah satu ruang pameran, mereka tampak terpukau ketika melihat kitab lontara, naskah tradisional yang menjadi sumber pengetahuan masyarakat Bugis-Makassar sejak berabad-abad lalu. Mereka juga mendapat penjelasan mengenai sistem penulisan, adat kerajaan, hingga filosofi yang terkandung dalam pakaian dan senjata tradisional.
Benteng Somba Opu: Jejak Pertahanan Terakhir dari Serangan Belanda
Usai meninggalkan Balla Lompoa, perjalanan berlanjut ke Benteng Somba Opu, kawasan bersejarah yang kini juga menjadi lokasi deretan rumah adat dari berbagai suku di Sulawesi Selatan. Benteng ini dulunya merupakan pusat pertahanan Kerajaan Gowa dan berperan besar dalam perang melawan Belanda.
Ketua Departemen Sastra Indonesia, Muslimat, menjelaskan panjang lebar mengenai sejarah benteng tersebut. Ia menuturkan bahwa Benteng Somba Opu dibangun di lokasi strategis yang dikelilingi dua sungai besar dan satu lautan. Posisi ini dahulu membuat benteng menjadi pusat pengendalian perdagangan sekaligus pertahanan kuat dari serangan VOC.
Mahasiswa Tiongkok tampak mengambil banyak foto, terutama di area rumah adat yang menunjukan keberagaman budaya Sulawesi Selatan. Beberapa mahasiswa terlihat berdiskusi tentang struktur pertahanan benteng dan bagaimana masyarakat Gowa mempertahankan wilayahnya dari tekanan kolonial.
Benteng Rotterdam dan Museum La Galigo: Penutup yang Menggugah
Lokasi terakhir adalah Benteng Rotterdam, bangunan megah peninggalan kolonial Belanda yang kini menjadi salah satu ikon Kota Makassar. Di dalam kompleks benteng, rombongan mengunjungi Museum La Galigo yang menyimpan berbagai koleksi arkeologi, etnografi, serta sejarah peradaban masyarakat Sulawesi.
Di sini, antusiasme mahasiswa Tiongkok semakin terlihat. Belinda, salah satu peserta, mengaku sangat senang melihat koleksi museum yang begitu lengkap. Ia mengatakan baru benar-benar memahami bagaimana Belanda menjajah wilayah Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan, untuk merebut rempah-rempah dan kekayaan alam. “Namun Raja-raja di Sulawesi Selatan berjuang keras mempertahankan tanahnya,” ujarnya kagum.
Kunjungan di Benteng Rotterdam menjadi penutup yang kuat bagi perjalanan budaya ini. Para mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman visual, tetapi juga pemahaman mendalam mengenai perjalanan sejarah, perlawanan, dan kebesaran budaya masyarakat Sulawesi Selatan.
Melalui program ini, baik mahasiswa Tiongkok maupun mahasiswa Sastra Indonesia dapat memperluas wawasan lintas budaya, serta memperkuat pemahaman mengenai warisan sejarah yang menjadi identitas penting bangsa Indonesia. (ipa/*)


