Dosen Vokasi Program Studi Agribisnis Pangan Unhas Lolos Pendanaan PDPU BIMA 2026
Membaca Ketergantungan Industri Farmasi Lewat Data Perdagangan
Ketergantungan industri farmasi Indonesia terhadap bahan baku impor masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan kemandirian industri kesehatan nasional. Di tengah gangguan rantai pasok global dan fluktuasi perdagangan internasional, isu ini semakin relevan untuk dibicarakan, bukan hanya oleh pelaku industri, tetapi juga kalangan akademik.
Berangkat dari persoalan tersebut, Ketergantungan industri farmasi Indonesia terhadap bahan baku impor masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan kemandirian industri kesehatan nasional. Di tengah gangguan rantai pasok global dan fluktuasi perdagangan internasional, isu ini semakin relevan untuk dibicarakan, bukan hanya oleh pelaku industri, tetapi juga kalangan akademik.
Keberhasilan lolos pendanaan PDPU BIMA 2026 ini sekaligus menunjukkan bagaimana riset vokasi mulai bergerak lebih dekat dengan kebutuhan industri dan persoalan nyata nasional, membaca data perdagangan bukan sekadar angka, tetapi sebagai pijakan untuk membangun sistem industri yang lebih mandiri di masa depan.
Berangkat dari persoalan tersebut, Zulfikar Syamsi, dosen Program Studi Agribisnis Pangan Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin, berhasil lolos pendanaan Program Penelitian Dosen Pemula atau PDPU BIMA Tahun 2026 melalui proposal riset berjudul “Integrasi Data HS Ekspor Impor dalam Pemetaan Rantai Pasok Eksipien: Strategi Diversifikasi Agroindustri dan Substitusi Lokal Komponen Industri Farmasi Indonesia.”
Penelitian ini berfokus pada pemetaan rantai pasok eksipien industri farmasi nasional melalui integrasi data perdagangan berbasis Harmonized System atau HS dan analisis jalur logistik. Eksipien sendiri merupakan komponen nonaktif dalam obat yang berfungsi menjaga stabilitas, keamanan, dan mutu produk farmasi.
Melalui pendekatan analisis rantai pasok berbasis data, penelitian akan memanfaatkan data perdagangan resmi dari BPS, UN Comtrade, dan World Integrated Trade Solution atau WITS. Analisis dilakukan untuk melihat pola impor, tren perdagangan, serta struktur pemasok eksipien farmasi Indonesia.
Tidak berhenti pada pemetaan rantai pasok, penelitian ini juga mencoba mengidentifikasi peluang substitusi lokal berbasis agroindustri. Potensi bahan baku lokal akan dianalisis dengan mempertimbangkan aspek teknis, kesiapan industri, hingga nilai tambah ekonomi yang dapat dihasilkan.
Dalam pelaksanaannya, penelitian melibatkan tim lintas disiplin dari Universitas Hasanuddin, yakni Igods Gabryaldo, A. Anggraini, dan Anshar Saud, serta mahasiswa Agribisnis Pangan Achmad Fachriansyah.
Hasil penelitian nantinya diharapkan mampu menghasilkan peta rantai pasok eksipien nasional, identifikasi komponen yang berpotensi disubstitusi secara lokal, hingga rekomendasi strategi diversifikasi bahan baku farmasi berbasis agroindustri.
Lebih jauh, riset ini diharapkan menjadi dasar pengambilan kebijakan sekaligus memperkuat sinergi antara sektor agroindustri dan industri farmasi nasional dalam meningkatkan ketahanan pasok dan kemandirian industri farmasi Indonesia secara berkelanjutan.