SARJANA TERAPAN AGRIBISNIS PANGAN
Unhas Siapkan Studi Kelayakan Pengembangan Durian di Bahari Tomini Raya
Admin Agribisnis Pangan · 12 Agustus 2026

Unhas Siapkan Studi Kelayakan Pengembangan Durian di Bahari Tomini Raya

Durian mungkin lebih sering dibicarakan dari soal rasa, varietas, atau musim panennya. Namun di Bahari Tomini Raya, Kabupaten Parigi Moutong, pembicaraan tentang durian kini bergerak lebih jauh: apakah komoditas ini cukup layak untuk dikembangkan menjadi salah satu penggerak ekonomi kawasan?
Pertanyaan itu yang akan dijawab melalui Studi Kelayakan Pengembangan Ekonomi Perkebunan Durian di KT Bahari Tomini Raya, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin telah menetapkan tim yang akan melaksanakan studi tersebut melalui keputusan tertanggal 7 Juli 2026.
Tim pelaksana dipimpin Andi Syastiawan, SP., M.Si., dosen Program Studi Sarjana Terapan Agribisnis Pangan Universitas Hasanuddin, yang dalam kegiatan ini dipercaya sebagai Ketua Tim sekaligus Ahli Agribisnis.
Ia akan bekerja bersama Fakhrul Indra Hermawan, SE., M.Si. sebagai Ahli Ekonomi, Dr. Rahmansyah Dermawan, SP., M.Si. sebagai Ahli Agronomi, serta Muh. Farrel Prayoga Ardiansyah, SP., M.Agb. sebagai Operator GIS. Komposisi tersebut juga sesuai dengan kebutuhan personel yang dirancang dalam proposal studi, yang menggabungkan keahlian agribisnis, ekonomi, agronomi, dan pemetaan spasial.
Selain tim pelaksana, kegiatan ini turut melibatkan Prof. dr. Muh. Nasrum Massi, Ph.D., Sp.MK(K) dan Prof. Dr. Ir. Jasmal A. Syamsu, M.Si., IPU., ASEAN.Eng. sebagai Tim Pengarah.
Bukan Sekadar Menghitung Berapa Banyak Durian yang Bisa Ditanam
Studi kelayakan ini tidak berhenti pada pertanyaan mengenai luas lahan atau kemampuan produksi. Pengembangan durian akan dilihat dari berbagai sisi, mulai dari kondisi agroklimat, kualitas tanah dan air, kesesuaian lokasi, teknologi budidaya, kebutuhan sarana produksi, hingga kesiapan petani dan infrastruktur pendukung.
Pasar juga menjadi bagian penting.
Tim akan melihat permintaan, harga, mutu, rantai pasok, distribusi, hingga peluang pengembangan durian dalam bentuk buah segar maupun produk olahan. Dari sini, studi tidak hanya berbicara tentang bagaimana durian ditanam, tetapi juga bagaimana hasil kebun nantinya bergerak dari produsen menuju pasar.
Aspek finansial pun menjadi salah satu bagian utama. Kebutuhan investasi dan biaya operasional akan dihitung bersama proyeksi produksi serta penerimaan. Sejumlah indikator seperti NPV, IRR, Net B/C, Payback Period, dan BEP akan digunakan untuk melihat apakah pengembangan perkebunan tersebut cukup layak secara finansial.
Melihat Kebun sebagai Sebuah Usaha
Durian membutuhkan waktu sebelum menghasilkan. Karena itu, membangun perkebunan durian tidak bisa hanya dihitung dari berapa banyak pohon yang dapat ditanam.
Model finansial dalam studi ini akan mempertimbangkan biaya investasi awal, biaya pemeliharaan selama tanaman belum menghasilkan, biaya produksi ketika kebun mulai berbuah, panen dan pascapanen, hingga umur ekonomi tanaman.
Analisis juga disusun dalam beberapa skenario. Ada kondisi dasar berdasarkan asumsi yang paling realistis, skenario optimistis dengan produktivitas dan harga yang lebih baik, serta skenario pesimistis ketika produksi terlambat, produktivitas atau harga menurun, dan biaya meningkat.
Di luar persoalan kebun, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: siapa yang akan mengelola usaha ketika pengembangan mulai berjalan?
Kesiapan kelompok tani, koperasi atau BUMDes, kemungkinan korporasi petani, akses pembiayaan, pola kemitraan, hingga keberadaan off-taker akan ikut dianalisis untuk menentukan bentuk kelembagaan yang paling sesuai.
Dengan begitu, kelayakan pengembangan durian tidak hanya ditentukan oleh apakah pohonnya dapat tumbuh dengan baik. Ada pasar yang harus tersedia, kelembagaan yang harus siap, pembiayaan yang masuk akal, serta rantai usaha yang mampu berjalan dalam jangka panjang.
Satu Bulan untuk Menyusun Dasar Keputusan
Studi dijadwalkan berlangsung selama satu bulan, dengan pekerjaan sejumlah tenaga ahli dilakukan secara paralel agar seluruh aspek dapat dianalisis dalam waktu yang tersedia.
Prosesnya dimulai dari persiapan dan kajian awal, pengumpulan data, survei serta pengambilan sampel di lapangan, dilanjutkan dengan pengujian dan analisis berbagai aspek kelayakan. Setelah itu, seluruh temuan akan disatukan untuk menyusun keputusan, prasyarat pengembangan, roadmap, dan rekomendasi.
Pada akhirnya, studi ini harus sampai pada satu keputusan penting: layak atau tidak layak.
Namun keputusan tersebut bukan sekadar jawaban ya atau tidak. Setiap aspek dapat dinilai layak, layak dengan prasyarat, atau belum layak. Jika masih terdapat prasyarat, studi akan menunjukkan hal-hal yang perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum pengembangan dilakukan.
Hasil studi nantinya diharapkan menjadi salah satu dasar bagi Kementerian Transmigrasi dan pemerintah daerah dalam menentukan arah pengembangan ekonomi perkebunan durian di Bahari Tomini Raya.
Sebab untuk menjadikan durian sebagai penggerak ekonomi kawasan, yang perlu dipastikan bukan hanya apakah tanaman itu bisa tumbuh, tetapi juga apakah kebunnya dapat dikelola, hasilnya memiliki pasar, dan usahanya mampu memberi manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat.