BELAJAR DARI TANAH DAN WAKTU
Catatan Mahasiswa dalam Ekskavasi Bone–Soppeng

Mengawali awal tahun dengan terlibat dalam kegiatan ekskavasi di wilayah Kabupaten Bone–Soppeng selama 18 hari menjadi pengalaman lapangan yang sangat berharga bagi saya sebagai mahasiswa. Kegiatan ini bukan hanya tentang menggali tanah dan mencatat temuan, tetapi juga tentang memahami proses panjang penelitian arkeologi secara langsung di lapangan. Setiap hari di lokasi memberi pengalaman baru yang tidak bisa sepenuhnya saya dapatkan di ruang kelas.
Dalam kegiatan ini, terdapat empat situs yang digali, masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan konteks situs tersebut membuat saya belajar bahwa setiap lokasi menyimpan cerita dan tantangannya sendiri, mulai dari kondisi stratigrafi, jenis temuan, hingga pendekatan penggalian yang digunakan. Melalui keterlibatan langsung, saya mulai memahami pentingnya ketelitian, kesabaran, dan kerja sama tim dalam setiap tahapan penelitian.
Pengalaman ini terasa semakin bermakna karena saya berkesempatan bekerja dan belajar langsung bersama para peneliti yang luar biasa. Bertemu, berdiskusi, dan berkegiatan dengan mereka membuka sudut pandang saya terhadap banyak hal, tidak hanya dari sisi keilmuan, tetapi juga dari sisi personal sebagai calon peneliti. Cara para peneliti bersikap di lapangan, berdiskusi, dan mengambil keputusan menjadi pembelajaran tersendiri yang sangat berharga.
Kegiatan ini menjadi semakin istimewa karena saya dapat belajar langsung dari dua penerima Bakrie Awards, Pak Budi dan Kak Basran. Bagi saya, bekerja bersama mereka merupakan pengalaman yang sangat menginspirasi. Penjelasan yang mereka sampaikan di lapangan, baik terkait konteks situs maupun pengalaman riset mereka, membuat proses belajar terasa hidup dan menyenangkan. Suasana lapangan yang intens namun akrab menjadikan kegiatan ekskavasi ini terasa seru, penuh diskusi, dan jauh dari kesan kaku.
Selama 18 hari kegiatan berlangsung, saya menyadari bahwa ekskavasi bukan hanya tentang hasil temuan, tetapi juga tentang proses belajar yang terus-menerus. Rasa lelah di lapangan terbayar dengan pengetahuan dan pengalaman yang saya dapatkan setiap harinya. Kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan akademik saya, tetapi juga memperkuat ketertarikan dan keyakinan saya untuk terus belajar dan berkecimpung di bidang arkeologi.
Melalui keterlibatan saya dalam kegiatan ekskavasi ini, saya belajar bahwa menjadi mahasiswa arkeologi bukan hanya soal memahami teori, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi realitas di lapangan. Saya belajar untuk lebih peka terhadap konteks, lebih sabar dalam proses, dan lebih terbuka terhadap diskusi serta sudut pandang orang lain. Kegiatan ini mengajarkan saya bahwa ilmu pengetahuan dibangun melalui kerja sama, ketekunan, dan rasa hormat terhadap data serta lingkungan tempat penelitian dilakukan. Lebih dari sekadar pengalaman akademik, ekskavasi ini membentuk cara pandang saya sebagai seorang pembelajar—bahwa setiap situs memiliki cerita, setiap proses memiliki makna, dan setiap kesempatan di lapangan adalah ruang belajar yang tidak ternilai dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa.