GEOFISIKA S1
Dosen Geofisika Unhas Bawa Pembelajaran Pengurangan Risiko Bencana dari Tohoku University
Administrator · 29 Juli 2026

Dosen Geofisika Unhas Bawa Pembelajaran Pengurangan Risiko Bencana dari Tohoku University

Tohoku University, 29 Juli hingga 1 Agustus 2026 – Dosen Geofisika Unhas Bawa Pembelajaran Pengurangan Risiko Bencana dari Tohoku University.

Penguatan literasi kebencanaan tidak cukup hanya melalui penelitian ilmiah. Perguruan tinggi juga perlu memastikan bahwa pengetahuan yang dihasilkan dapat menjangkau masyarakat serta berkontribusi dalam membangun kesiapsiagaan dan ketangguhan terhadap bencana.

Hal tersebut menjadi salah satu pembelajaran yang diperoleh Saaduddin, Ph.D., dosen Departemen Geofisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Hasanuddin (Unhas), setelah mengikuti APRU Multi-Hazards Summer School 2026 di Tohoku University, Jepang.A.

Program yang diselenggarakan oleh International Research Institute of Disaster Science (IRIDeS), Tohoku University, tersebut berlangsung pada 29 Juli hingga 1 Agustus 2026. Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta dari lebih dari 20 negara, yang sebagian besar merupakan peneliti muda di bidang ilmu kebencanaan, pengurangan risiko bencana atau Disaster Risk Reduction (DRR), serta berbagai disiplin terkait.

Bagi Saaduddin, summer school tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperdalam pengetahuan ilmiah, tetapi juga memberikan perspektif mengenai pentingnya mengintegrasikan hasil penelitian, kebijakan pemerintah, keterlibatan masyarakat, dan inovasi teknologi dalam seluruh tahapan penanggulangan bencana.

“Melalui summer school ini, saya memperoleh banyak perspektif mengenai penanganan bencana, baik sebelum, saat, maupun setelah bencana. Salah satu pembelajaran penting adalah bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil peran yang lebih aktif dalam mendiseminasikan pengetahuan kebencanaan dan memperkuat literasi kebencanaan di tengah masyarakat,” ujar Saaduddin.

Program selama empat hari tersebut diawali dengan seminar bertajuk “Lessons Learned from the 2011 Great East Japan Earthquake and Tsunami.” Para peserta mempelajari bagaimana pengalaman Jepang menghadapi bencana pada 2011 telah membentuk dan memperkuat sistem kesiapsiagaan, mitigasi, tanggap darurat, pemulihan, hingga upaya membangun ketangguhan jangka panjang.

Pembahasan tidak hanya berfokus pada dampak fisik yang ditimbulkan oleh bencana. Peserta juga mempelajari bagaimana pengalaman dan pembelajaran dari sebuah bencana besar dapat ditransformasikan menjadi pengetahuan, kebijakan, pendidikan kebencanaan, serta kesiapsiagaan berbasis masyarakat.

Pada hari kedua, pembahasan diarahkan pada peran berbagai pemangku kepentingan dalam pengurangan risiko bencana. Pemerintah daerah, organisasi nonpemerintah (NGO), perguruan tinggi, dan masyarakat memiliki peran yang saling berkaitan dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang efektif.

Melalui diskusi kelompok, peserta berbagi pengalaman dari negara masing-masing sekaligus membahas bagaimana kolaborasi antarpemangku kepentingan dapat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana, terutama pada tingkat lokal.

Hari ketiga membahas perkembangan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Big Data dalam pengurangan risiko bencana. Peserta mengeksplorasi bagaimana pendekatan berbasis data dan perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung kajian risiko, sistem peringatan dini, kesiapsiagaan, serta pengambilan keputusan dalam penanggulangan bencana.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan kunjungan lapangan ke Onagawa, salah satu kawasan pesisir yang terdampak parah oleh Gempa Bumi dan Tsunami Jepang Timur 2011.

Melalui kunjungan tersebut, peserta melihat secara langsung bagaimana proses rekonstruksi pascabencana berjalan berdampingan dengan upaya menjaga memori kebencanaan, meningkatkan kesadaran terhadap risiko, serta membangun ketangguhan masyarakat. Berbagai pembelajaran dari bencana masa lalu telah menjadi bagian penting dalam pembangunan Onagawa setelah bencana.

Saaduddin menilai pengalaman yang diperoleh di Jepang relevan untuk pengembangan kegiatan kebencanaan di Universitas Hasanuddin, khususnya pada Program Studi Geofisika.

Sebagai bidang keilmuan yang berkaitan erat dengan gempa bumi, tsunami, aktivitas vulkanik, dan berbagai bahaya geofisika lainnya, Geofisika memiliki potensi besar untuk menerjemahkan hasil penelitian menjadi pengetahuan kebencanaan yang praktis dan mudah dipahami masyarakat.

Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah memperkuat kerja sama antara Program Studi Geofisika dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat kabupaten maupun kota. Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui program literasi kebencanaan, edukasi masyarakat, kegiatan di sekolah, pelatihan kesiapsiagaan, hingga pengembangan media edukasi berbasis sains.

“Kerja sama dengan BPBD dapat menjadi salah satu wadah bagi perguruan tinggi untuk menerjemahkan pengetahuan ilmiah menjadi edukasi kebencanaan yang aplikatif. Bagi Program Studi Geofisika, kolaborasi ini juga dapat memperkuat kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari Tridarma, sekaligus memastikan bahwa kepakaran yang kita miliki memberikan dampak langsung kepada masyarakat,” kata Saaduddin.

Melalui pendekatan tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah ataupun pembelajaran di ruang kelas. Pengetahuan mengenai gempa bumi, tsunami, dan berbagai ancaman bencana lainnya dapat dikemas menjadi informasi yang lebih mudah dipahami dan dimanfaatkan masyarakat untuk mengenali risiko di lingkungannya serta meningkatkan kesiapsiagaan.

Keikutsertaan dalam APRU Multi-Hazards Summer School 2026 juga membuka kesempatan untuk memperluas jejaring internasional dengan para peneliti muda dari berbagai negara dan latar belakang keilmuan.