Seminar Hasil Kajian Koleksi Museum Kota Makassar: Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Ketel Samovar sebagai Koleksi Material Logam
Makassar – Dalam rangka meningkatkan pemahaman terhadap nilai sejarah, budaya, dan informasi yang terkandung dalam koleksi museum, UPT Museum Kota Makassar Dinas Kebudayaan Kota Makassar melaksanakan kegiatan Seminar Hasil Kajian Koleksi Museum Kota Makassar melalui dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Tahun Anggaran 2026.
Kegiatan seminar yang dilaksanakan pada Rabu, 9 September 2026 bertempat di Hotel Arthama, Jalan Haji Bau No. 5 Makassar, menghadirkan Dr. Erwin Mansyur Ugu Saraka, M.Arch., M.A.T., Sc. dari Departemen Arkeologi Universitas Hasanuddin sebagai narasumber utama. Seminar ini menjadi bagian dari upaya Museum Kota Makassar dalam melakukan kajian mendalam terhadap koleksi, khususnya koleksi berbahan material logam, sebagai dasar penguatan informasi koleksi sebelum ditampilkan kepada masyarakat. Materi yang disampaikan dalam seminar berfokus pada hasil kajian terhadap salah satu koleksi unggulan Museum Kota Makassar, yaitu Ketel Samovar. Koleksi tersebut merupakan salah satu artefak berbahan logam yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi karena merepresentasikan perkembangan teknologi rumah tangga serta tradisi minum teh dalam masyarakat Rusia.
Dalam pemaparannya, Pak Erwin menjelaskan bahwa samovar merupakan ketel logam tradisional yang berasal dari Rusia dan secara harfiah berarti “merebus sendiri” atau “self-boiler”, berasal dari kata Rusia sam (sendiri) dan varit (merebus). Alat ini tidak hanya berfungsi sebagai perangkat rumah tangga untuk menyediakan air panas, tetapi juga menjadi simbol keramahan, interaksi sosial, dan budaya minum teh masyarakat Rusia sejak abad ke-18. Dalam kajian koleksi tersebut, dijelaskan bahwa terdapat beberapa versi mengenai asal-usul samovar. Versi pertama mengaitkannya dengan pengaruh Barat melalui perjalanan Peter I ke Eropa, khususnya Belanda, meskipun belum ditemukan bukti dokumenter yang kuat. Versi kedua menghubungkannya dengan alat memasak tradisional Tiongkok bernama Hogo, walaupun memiliki fungsi yang berbeda. Sementara itu, versi yang paling banyak diterima adalah bahwa samovar merupakan inovasi masyarakat Rusia yang berkembang melalui kemajuan industri logam dan tradisi minum teh dari Tiongkok. Lebih lanjut, Erwin menjelaskan bahwa perkembangan samovar modern mulai berkembang di Rusia pada tahun 1778 melalui pengrajin Ivan Fyodorovich dan Nazar Fyodorovich Lisitsyn di Kota Tula yang kemudian dikenal sebagai pusat produksi samovar. Perkembangan industri logam di Rusia memungkinkan produksi samovar secara luas dan menjadikannya salah satu simbol kerajinan logam Rusia.
Dalam aspek fungsi dan teknologi, samovar dirancang untuk menjaga air tetap panas secara terus-menerus sebagai bagian dari tradisi penyajian teh. Samovar tradisional menggunakan bahan bakar seperti arang atau kayu melalui pipa pemanas yang berada di bagian tengah wadah air. Pada bagian atas terdapat tempat untuk meletakkan teko berisi konsentrat teh (zavarka), kemudian air panas digunakan untuk mencampur dan menghasilkan minuman teh siap konsumsi. Dari sisi material, koleksi samovar menunjukkan perkembangan teknologi pengerjaan logam dengan penggunaan berbagai bahan seperti besi, tembaga, kuningan, perunggu, perak, emas, timah, dan nikel. Bentuk samovar juga berkembang dalam berbagai variasi, seperti bentuk guci (urn), kawah (krater), tong, silinder, hingga bola, dengan berbagai motif dekoratif yang mencerminkan karakter budaya dan periode produksinya.
Kegiatan seminar ini dihadiri oleh berbagai unsur pemangku kepentingan kebudayaan dan pendidikan, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan Kota Makassar, Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Makassar, Kepala Museum Monumen Mandala, Museum Karaeng Pattingalloang, Museum Lantamal, perwakilan Asosiasi Museum Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (AMIDA), Asosiasi Guru IPS Makassar, komunitas seni dan budaya se-Kota Makassar, mahasiswa dari Universitas Hasanuddin (UNHAS), Universitas Bosowa (UNIBOS), Universitas Negeri Makassar (UNM), Duta Budaya Kota Makassar, serta guru-guru IPS tingkat SMP dan SMA se-Kota Makassar.
Melalui kegiatan seminar hasil kajian koleksi ini, Museum Kota Makassar tidak hanya berupaya mendokumentasikan informasi koleksi, tetapi juga memperkuat fungsi museum sebagai pusat penelitian, edukasi, dan penyebarluasan pengetahuan budaya. Kajian terhadap koleksi seperti ketel samovar menjadi langkah penting untuk memahami perjalanan benda, teknologi, serta hubungan antarbudaya yang tercermin dalam koleksi museum. Dengan adanya kajian akademik yang mendalam, koleksi Museum Kota Makassar diharapkan mampu memiliki narasi yang lebih kuat sehingga masyarakat tidak hanya melihat benda sebagai artefak fisik, tetapi juga memahami nilai sejarah, teknologi, dan budaya yang melekat di dalamnya. Museum bukan hanya tempat menyimpan benda masa lalu, tetapi ruang untuk membaca perjalanan manusia, peMateri Sosialisasi


