Workshop Semiotika: Membaca Tanda, Mengurai Makna, Perkuat Pemahaman Dosen dan Mahasiswa FIB UNHAS
Administrator · 25 Sep 2025
Makassar, 24 September 2025 – Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (UNHAS) baru saja menyelenggarakan workshop bertajuk Semiotika: Membaca Tanda, Mengurai Makna pada hari Rabu, 24 September 2025. Workshop ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa sebagai upaya untuk memperdalam pemahaman tentang teori semiotika dalam membaca dan menginterpretasikan teks serta budaya melalui lensa tanda dan makna.
Acara ini menghadirkan dua pemateri yang sangat kompeten di bidangnya, yaitu Ibu Dr. Ery Iswary, M.Hum dan Dr. Andi Faisal, M.Hum, yang masing-masing menyampaikan materi terkait teori semiotika yang sudah dikenal luas di dunia akademik. Ibu Dr. Ery Iswary membuka sesi dengan materi berjudul Peran Semiotika dalam Memahami Teks dan Budaya: Trilogi Tanda Pierce. Dalam materi ini, beliau menjelaskan tentang trilogi tanda Pierce yang terdiri dari tiga kategori utama—ikon, indeks, dan simbol. Tiga kategori ini, menurut Pierce, adalah cara kita memahami dan menafsirkan dunia di sekitar kita melalui tanda-tanda yang muncul dalam teks, gambar, dan bahkan budaya. Konsep ini sangat relevan dalam menganalisis fenomena budaya dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Dr. Andi Faisal membahas teori semiologi Roland Barthes dalam materi berjudul Mitos dan Kritik Kebudayaan: Pengantar ke Semiologi Roland Barthes. Barthes mengemukakan bahwa budaya populer sering kali dibentuk oleh sistem tanda yang disebut mitos, yang merupakan wacana ideologi tersembunyi di balik produk budaya, termasuk media massa. Melalui pendekatan ini, Barthes mengajak kita untuk mengkritisi makna yang muncul dalam iklan, film, dan karya-karya budaya lainnya, di mana tanda-tanda tersebut tidak hanya memiliki makna literal tetapi juga nilai-nilai ideologis yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap dunia.
Sebagai bagian dari workshop, mahasiswa diberikan tugas untuk mengaplikasikan kedua teori ini dalam analisis video iklan Tiongkok. Tugas ini bertujuan untuk melatih kemampuan mereka dalam membaca tanda-tanda yang ada dalam media kontemporer, serta memahami bagaimana iklan-iklan tersebut membangun makna melalui simbol, mitos, dan sistem tanda lainnya. Mahasiswa diminta untuk mengidentifikasi unsur-unsur semiotika dalam iklan, seperti ikon, indeks, dan simbol menurut Pierce, serta mitos dan ideologi yang membentuk pesan-pesan tersembunyi dalam iklan tersebut menurut Barthes.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta, yang menganggapnya sebagai kesempatan berharga untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan dalam analisis budaya. "Workshop ini membuka wawasan baru bagi saya dalam memahami bagaimana setiap elemen dalam media—baik gambar, kata-kata, maupun simbol—memiliki makna yang lebih dalam dan tidak selalu tampak pada pandangan pertama," ujar salah satu mahasiswa yang mengikuti acara tersebut.
Dr. Andi Faisal menyampaikan, "Penting bagi kita untuk tidak hanya menjadi konsumen budaya, tetapi juga menjadi analis yang kritis terhadap pesan-pesan yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami teori semiotika ini, kita bisa lebih cerdas dalam membaca budaya yang ada di sekitar kita."
Workshop ini juga menjadi momentum penting bagi Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok FIB UNHAS dalam mengembangkan pendekatan interdisipliner dalam studi bahasa dan budaya. Melalui acara seperti ini, diharapkan para peserta dapat lebih memahami dinamika budaya global yang terus berkembang dan bagaimana budaya Tiongkok, khususnya melalui media, memiliki peran penting dalam menyampaikan nilai dan pesan-pesan budaya yang kompleks.
Prodi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok FIB UNHAS berencana untuk terus mengadakan kegiatan-kegiatan serupa di masa depan, guna memberikan ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk menggali lebih dalam berbagai aspek budaya dan komunikasi, serta meningkatkan kemampuan analisis kritis terhadap fenomena sosial yang berkembang di masyarakat.