Kaharuddin Jadi Guru Besar Bidang Fonologi Unhas, Bahas Korespondensi Fonem Bugis–Makassar
MAKASSAR — Prof. Drs. Kaharuddin, M.Hum., Ph.D. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Fonologi pada Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas). Pengukuhan Dosen Sastra Indonesia Unhas itu berlangsung dalam Rapat Paripurna Senat Akademik Terbatas untuk Upacara Penerimaan Jabatan Profesor di Ruang Senat Akademik Unhas, Lantai 2 Gedung Rektorat Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, Jumat (17/7/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Unhas juga mengukuhkan tiga guru besar lainnya, yakni Prof. Drs. Darwis, M.A., Ph.D. sebagai Guru Besar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia, Prof. Dr. Muhammad Yunus, M.A. sebagai Guru Besar Bidang Manajemen Publik, serta Prof. Dr. Mohamad Tahir Haning, M.Si. sebagai Guru Besar Bidang Administrasi Pembangunan. Ketiganya berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Dalam pidato ilmiahnya bertajuk "Korespondensi Fonem dalam Bahasa Bugis–Makassar", Prof. Kaharuddin menjelaskan bahwa fonologi memiliki peran penting dalam memahami sistem bunyi bahasa, mulai dari pola bunyi, struktur suku kata, tekanan, intonasi, hingga proses perubahan bunyi dalam berbagai bahasa dan dialek.
Menurutnya, kajian fonologi tidak hanya menjadi landasan dalam memahami sistem bahasa, tetapi juga mendukung pengembangan teknologi bahasa, pembelajaran, dokumentasi, serta pelestarian bahasa daerah.
Melalui penelitiannya, Prof. Kaharuddin menemukan adanya korespondensi fonem antara bahasa Bugis dan bahasa Makassar pada posisi awal, tengah, maupun akhir kata.
"Korespondensi fonem tersebut tidak terjadi secara kebetulan, melainkan disebabkan oleh adanya hukum bunyi yang berlaku dalam bahasa Bugis–Makassar," ujar Prof. Kaharuddin.
Salah satu kaidah yang berhasil diidentifikasi ialah perubahan fonem /ɔ/ dalam bahasa Bugis menjadi /a/ dalam bahasa Makassar pada sejumlah kosakata yang memiliki makna sama. Temuan tersebut memperkaya khazanah kajian fonologi sekaligus memperkuat upaya dokumentasi dan pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
Prof. Kaharuddin merupakan akademisi dan linguis Universitas Hasanuddin yang memiliki kepakaran di bidang fonologi, khususnya kajian hubungan sistem bunyi bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Selatan. Lahir di Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) pada 31 Desember 1964, ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Bahasa Indonesia di Universitas Hasanuddin pada 1989, kemudian meraih gelar Magister Humaniora pada Program Pascasarjana Bahasa Indonesia Unhas pada 2003. Pendidikan doktoralnya ditempuh di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada bidang Kajian Melayu hingga memperoleh gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) pada 2016.
Pidato Tiga Profesor
Selain Prof. Kaharuddin, tiga profesor lainnya juga memaparkan hasil riset sesuai bidang kepakarannya. Prof. Darwis melalui pidato berjudul "Rekalibrasi Politik Luar Negeri Indonesia di ASEAN dalam Dinamika Geopolitik dan Geostrategis Indo-Pasifik: Perspektif Regional Security Complex dan Realisme Neoklasik"menjelaskan bahwa perubahan geopolitik global mendorong Indonesia melakukan penyesuaian strategi diplomasi. Menurutnya, ASEAN tetap menjadi cornerstone politik luar negeri Indonesia sehingga diperlukan kebijakan yang lebih adaptif dan proaktif untuk menjaga otonomi strategis serta stabilitas kawasan.
Sementara itu, Prof. Muhammad Yunus dalam pidato "Restrukturisasi Organisasi: Mewujudkan Birokrasi Publik yang Adaptif" menekankan pentingnya restrukturisasi organisasi publik melalui penguatan sumber daya manusia, digitalisasi, desentralisasi kewenangan, dan kolaborasi multipihak guna mewujudkan birokrasi yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
Adapun Prof. Mohamad Tahir Haning melalui pidato "Membangun Kepercayaan Publik terhadap Kebijakan Pemerintah melalui Reformasi Birokrasi di Indonesia" menegaskan bahwa reformasi birokrasi harus memperkuat integritas, transparansi, akuntabilitas, serta partisipasi masyarakat agar mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah dan mendukung pembangunan nasional.
Rektor: Guru Besar Harus Jadi Motor Inovasi
Usai prosesi pengukuhan, Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menegaskan bahwa guru besar memiliki peran strategis sebagai motor penggerak riset, inovasi, dan kolaborasi ilmiah di tengah tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan geopolitik, disrupsi teknologi, hingga tuntutan pembangunan berkelanjutan.
Menurut rektor yang akrab disapa Prof. JJ itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya meningkatkan produktivitas akademik, tetapi juga harus memastikan setiap penelitian menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
"Efisiensi itu penting, tetapi yang lebih penting adalah efektivitas dalam mencapai tujuan," ujar Prof. JJ.
Ia menjelaskan, Universitas Hasanuddin memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu pengetahuan di kawasan timur Indonesia. Filosofi Ayam Jantan dari Timur yang menjadi identitas Unhas, menurutnya, mencerminkan semangat kepemimpinan dan keberanian dalam menghadirkan perubahan melalui riset dan inovasi.
Prof. JJ juga menyoroti pentingnya memperkuat science diplomacy melalui kerja sama akademik internasional. Menurutnya, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi kini menjadi faktor utama yang menentukan daya saing bangsa di tengah perubahan lanskap geopolitik dan geoekonomi dunia.
Karena itu, ia mengajak para profesor untuk terus membangun kolaborasi lintas disiplin agar mampu menghasilkan riset yang relevan, mendukung lahirnya kebijakan strategis, serta memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional.
"Universitas Hasanuddin harus terus menjadi pilar yang melahirkan inovasi, memperkuat ekonomi, dan berkontribusi dalam dinamika geopolitik melalui riset dan science diplomacy," tutup Prof. JJ. (*)