Model Welenrenge Perkuat Karakter Maritim Siswa Bulukumba
Mengusung tema "Model Welenrenge: Penguatan Karakter Maritim", program ini mempertemukan akademisi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas dengan siswa SMKN 3 Bulukumba di SMA Negeri 9 Bulukumba. Kegiatan tersebut bertujuan menanamkan nilai-nilai karakter, kepemimpinan, serta kearifan lokal maritim yang berakar pada warisan budaya Bugis-Makassar.
Tim pengabdian dipimpin Prof. Dr. A. B. Takko Bandung, M.Hum. sebagai ketua, didampingi Dr. Dra. St. Nursa'adah, M.Hum. dan Ilham, S.S., M.Hum. sebagai anggota. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa, yakni Asmira, Ilma Ratmiyanti, Syahrul Ramadhan, Azizah Az Zahrah, dan Ismail Basri.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Kepala SMKN 3 Bulukumba, Muhammad Ikbal. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim pengabdian Universitas Hasanuddin di Bulukumba.
Menurut Ikbal, kehadiran akademisi Unhas merupakan kebanggaan bagi sekolah sekaligus bukti nyata kepedulian perguruan tinggi terhadap pengembangan sumber daya manusia di daerah.
"Kalimat yang paling pantas kami ucapkan pada kesempatan ini adalah Alhamdulillah. Kehadiran orang tua kami dari Universitas Hasanuddin di Kabupaten Bulukumba, khususnya di SMKN 3 Bulukumba dan SMA Negeri 9 Bulukumba sebagai tuan rumah, merupakan sesuatu yang sangat kami banggakan dan syukuri," ujarnya.
Ia menilai program pengabdian masyarakat seperti ini memiliki nilai strategis karena memberi kesempatan kepada peserta didik memperoleh pengetahuan dan pengalaman langsung dari kalangan akademisi.
"Ini adalah program yang sangat kami apresiasi. Tidak semua perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, melaksanakan program seperti ini secara konsisten. Padahal, salah satu amanah utama Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, kami sangat menghargai Universitas Hasanuddin yang terus hadir dan berbagi manfaat kepada masyarakat Sulawesi Selatan," katanya.
Ikbal juga menyampaikan terima kasih kepada Prof. Takko Bandung beserta tim yang telah memilih Bulukumba sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan.
"Atas nama keluarga besar SMKN 3 Bulukumba, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Dr. A. B. Takko Bandung dan seluruh tim yang hadir di tengah-tengah kami untuk melaksanakan salah satu tugas mulia perguruan tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat," ungkapnya.
Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda sesaat, melainkan terus berlanjut melalui berbagai bentuk kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi.
"Kami membuka diri dan siap mendukung berbagai program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Universitas Hasanuddin maupun perguruan tinggi lainnya. Semoga kerja sama ini terus berlanjut demi kemajuan pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda," tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Takko memaparkan Model Welenrenge, sebuah konsep penguatan karakter yang digali dari nilai-nilai keteladanan tokoh Sawerigading dalam karya sastra monumental Bugis, I La Galigo. Menurutnya, model tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam membangun karakter, kepemimpinan, dan jati diri.
Dalam pemaparannya, Prof. Takko memperkenalkan konsep The Alena atau model diri. Ia menjelaskan bahwa perilaku manusia dibentuk oleh akumulasi pengalaman hidup, mulai dari apa yang dilihat, didengar, dibaca, hingga lingkungan sosial tempat seseorang berinteraksi.
"Setiap orang atau kelompok beraktivitas berdasarkan latar belakang pengalaman yang dimilikinya. Karena itu, hal yang paling penting adalah mengenali diri sendiri. Ketika seseorang mengenal dirinya, ia akan lebih mudah memahami tujuan hidup dan arah tindakannya," jelasnya.
Ia kemudian mengutip pemikiran filsuf Yunani, Socrates, yang terkenal dengan ungkapan Know Yourself atau Kenalilah Dirimu Sendiri. Nilai tersebut, menurutnya, juga hidup dalam kearifan lokal Bugis-Makassar melalui ungkapan "Ajeppui Alemu, Muajeppui Puangmu", yang bermakna bahwa seseorang yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya dan mampu menjalani kehidupan secara berbudaya.
Prof. Takko menjelaskan bahwa konsep tersebut memiliki landasan teologis yang kuat, yakni peran manusia sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 30, serta sebagai hamba Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. Az-Zariyat ayat 56.
Menurutnya, melalui pendekatan The Alena, seseorang dapat menemukan model dirinya sendiri. Dengan memahami jati diri, seseorang akan mampu memperbaiki kelemahan, mengembangkan potensi, serta membangun energi positif untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
"Mengapa seseorang melakukan sesuatu, hanya dirinya dan Allah yang paling mengetahui. Ketika model diri sudah ditemukan, maka seseorang akan mampu menata diri, memperbaiki diri, dan mengisi ulang energi positif dalam kehidupannya," tuturnya.
Antusiasme peserta terlihat pada sesi diskusi dan tanya jawab. Salah seorang peserta, Ketua OSIS SMKN 3 Bulukumba, Muh. Farid Reyhan, mengajukan pertanyaan mengenai faktor-faktor yang membentuk karakter masyarakat Bugis-Makassar.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Takko menjelaskan bahwa karakter tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman hidup.
"Hal itu sangat bergantung pada apa yang dilihat, didengar, dan dibaca oleh seseorang. Selain itu, kita juga harus melihat dengan siapa ia berinteraksi. Lingkungan pergaulan sangat memengaruhi cara berpikir, bertindak, bahkan cara seseorang menggunakan bahasa," jelasnya.
Ia menambahkan, masyarakat Bugis-Makassar pada masa lalu dikenal memiliki tata krama dan karakter yang kuat karena proses pendidikan budaya berlangsung secara berkelanjutan melalui keluarga dan adat istiadat.
"Generasi terdahulu memiliki bahasa yang tertata dan perilaku yang baik karena mendapatkan pengajaran melalui adat istiadat yang dijalankan secara konsisten. Nilai-nilai tersebut diwariskan dari generasi ke generasi sehingga membentuk karakter yang kuat dalam kehidupan masyarakat," ujarnya.
Prof. Takko juga mengingatkan para siswa agar bijak memilih lingkungan pergaulan serta informasi yang dikonsumsi setiap hari. Menurutnya, apa yang dilihat, dibaca, dan didengar akan sangat menentukan kualitas karakter seseorang pada masa depan.
Kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat respons positif dari para peserta. Melalui program pengabdian ini, Universitas Hasanuddin tidak hanya
menghadirkan transfer pengetahuan kepada para pelajar, tetapi juga memperkuat upaya pelestarian nilai-nilai budaya lokal sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda.
Melalui Model Welenrenge, nilai-nilai maritim, kepemimpinan, dan kearifan lokal Bugis-Makassar diharapkan menjadi bekal bagi para pelajar dalam menghadapi tantangan zaman sekaligus menjaga identitas budaya bangsa. (*)








