Pemberdayaan Peternak Sapi Potong di Gowa, Tim Teknologi Produksi Ternak Vokasi Unhas Tingkatkan Angka Kebuntingan Melalui Manajemen Reproduksi
Dalam upaya mendukung program ketahanan pangan nasional dan meningkatkan produktivitas peternakan rakyat, melalui Program BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek) pada skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), tim dosen Program Studi Teknologi Produksi Ternak Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Peternak Sapi dalam Penerapan Manajemen Reproduksi sebagai Upaya Peningkatan Angka Kebuntingan” di Kelompok Tani Mattiro Baji, Desa Lassa-Lassa, Kecamatan Bontolempangan, Kabupaten Gowa.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya efisiensi reproduksi sapi potong pada peternakan rakyat. Berdasarkan hasil identifikasi lapangan, angka kebuntingan sapi potong pada kelompok ternak telgolong rendah. Selain itu, berbagai gangguan reproduksi seperti anestrus, repeat breeder, dan lamanya masa kosong (Days Open) masih sering ditemukan sehingga berdampak pada rendahnya produktivitas ternak dan lambatnya peningkatan populasi sapi potong di daerah tersebut.
Ketua tim pengabdian, Hasrin, S.Pt., M.Si., menjelaskan bahwa program ini untuk meningkatkan kapasitas peternak dalam menerapkan manajemen reproduksi yang lebih baik melalui pelatihan teknis, pendampingan lapangan, serta penerapan sistem pencatatan reproduksi yang terstruktur. Dikatakannya, reproduksi merupakan faktor utama dalam meningkatkan populasi dan produktivitas sapi potong pada peternakan rakyat.
Program dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta pemberdayaan program. Pada tahap pelatihan, peternak diberikan materi mengenai manajemen perkawinan sapi potong, pengenalan dan penanganan gangguan reproduksi, serta teknik pencatatan reproduksi yang sederhana dan mudah diterapkan di tingkat kelompok ternak.
Selain penyuluhan, tim pengabdian juga memperkenalkan sejumlah inovasi berupa buku saku manajemen perkawinan sapi potong, buku saku penanganan gangguan reproduksi, dan buku saku catatan reproduksi. Inovasi ini diharapkan dapat memberikan panduan praktis bagi peternak dalam melakukan deteksi birahi, menentukan waktu perkawinan yang tepat, mengenali gangguan reproduksi, serta melakukan reproduksi reproduksi secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, tim berupaya meningkatkan angka kebuntingan sapi potong hingga mencapai 80 persen, penurunan kasus gangguan reproduksi dari 60 persen menjadi kurang dari 20 persen, serta seluruh anggota kelompok memiliki sistem pencatatan reproduksi yang aktif. Target tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi usaha peternakan sekaligus mendukung pertumbuhan populasi sapi potong di Kabupaten Gowa khususnya di Kecamatan Bontolempangan.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari anggota Kelompok Tani Mattiro Baji. Para peternak mengaku memperoleh pengetahuan baru mengenai pemeliharaan reproduksi ternak yang selama ini belum diterapkan secara optimal. Dengan adanya pendampingan berkelanjutan selama bulan beberapa bulan kedepan, peternak berharap dapat meningkatkan produktivitas ternak serta menambah pendapatan keluarga melalui peningkatan jumlah pedet yang lahir setiap tahun.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi serta masyarakat, program ini diharapkan menjadi model pengembangan peternakan sapi potong berbasis pemberdayaan masyarakat yang mampu meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional melalui penyediaan sumber protein hewani yang berkelanjutan.

Hasanuddin University Vocational Faculty Lecturers Strengthen Reproductive Management Practices to Improve Beef Cattle Pregnancy Rates in Gowa