Kolaborasi Survei LiDAR di Kawasan Gua Purbakala Geopark Maros Pangkep Bersama Professor Josaphat dan Civitas Akademika Unhas
Maros-Pangkep, 9 Juli 2025 — Kegiatan survei menggunakan teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging) dilaksanakan di kawasan gua purbakala Geopark Maros Pangkep oleh tim gabungan dari Departemen Geofisika FMIPA Universitas Hasanuddin (Unhas), Professor Josaphat dari Chiba University, serta Departemen Geologi dan Departemen Arkeologi Unhas. Kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi penelitian lintas disiplin yang bertujuan untuk menghasilkan pemetaan kawasan prasejarah secara lebih detail, akurat, dan relevan untuk berbagai kepentingan ilmiah maupun pelestarian.
Survei dilakukan di kawasan karst Maros-Pangkep yang telah lama dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan geologi dan arkeologi yang penting, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat global. Kawasan ini memiliki banyak gua purbakala yang menyimpan bukti aktivitas manusia masa lampau, seperti lukisan dinding gua dan berbagai temuan artefak. Selain itu, bentang alam karst yang kompleks dengan perbukitan batu kapur, lorong gua, dan sistem drainase bawah tanah menjadikan wilayah ini menarik sekaligus menantang untuk diteliti.
Dalam pelaksanaannya, teknologi LiDAR digunakan untuk memperoleh data topografi dan morfologi permukaan dengan resolusi tinggi. Metode ini bekerja dengan memancarkan sinar laser ke permukaan tanah dari sensor tertentu, kemudian merekam pantulan sinar tersebut untuk menghasilkan model tiga dimensi yang detail. Salah satu keunggulan LiDAR adalah kemampuannya menembus celah vegetasi, sehingga tetap dapat menangkap kondisi permukaan tanah meskipun tertutup hutan lebat. Hal ini sangat membantu dalam pemetaan kawasan karst yang umumnya sulit diakses.
Data yang dihasilkan dari survei ini kemudian diolah dan dianalisis oleh tim peneliti untuk mengidentifikasi berbagai aspek penting. Mulai dari bentuk lahan, pola aliran air, struktur geologi, hingga indikasi lokasi situs arkeologi yang belum terdokumentasi sebelumnya. Dengan pendekatan ini, proses identifikasi menjadi lebih efektif dibandingkan metode konvensional yang sering kali membutuhkan waktu lebih lama dan memiliki keterbatasan dalam jangkauan area.
Kegiatan ini melibatkan berbagai disiplin ilmu yang saling melengkapi. Tim Geofisika berperan dalam proses akuisisi dan pengolahan data LiDAR, termasuk interpretasi awal terhadap hasil pemetaan. Tim Geologi kemudian menganalisis struktur batuan dan proses pembentukan kawasan karst untuk memahami dinamika geologi yang terjadi. Sementara itu, tim Arkeologi memanfaatkan data tersebut untuk mengidentifikasi potensi situs prasejarah serta mengkaji konteks budaya yang mungkin terkandung di dalamnya. Kehadiran Professor Josaphat memberikan nilai tambah dalam hal penerapan teknologi penginderaan jauh dan pengembangan metode survei yang lebih modern dan efisien.
Selain sebagai kegiatan pengumpulan data, survei ini juga menjadi langkah awal untuk penelitian lanjutan yang lebih mendalam. Data yang diperoleh diharapkan dapat menjadi dasar dalam berbagai kajian ilmiah, baik di bidang geosains maupun arkeologi. Tidak hanya itu, hasil survei ini juga berpotensi digunakan dalam perencanaan pengelolaan kawasan geopark, termasuk dalam upaya konservasi dan pengembangan wisata berbasis edukasi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kolaborasi antara institusi dalam negeri dan luar negeri dapat terus terjalin dan berkembang. Pemanfaatan teknologi seperti LiDAR menunjukkan bahwa penelitian modern tidak hanya berfokus pada pengumpulan data, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, Geopark Maros Pangkep tidak hanya menjadi lokasi penelitian, tetapi juga menjadi warisan penting yang perlu dijaga dan dimanfaatkan secara bijak untuk generasi mendatang.