Mengurai Krisis Iklim: Pola Cuaca yang Berubah dan Dampaknya terhadap Bencana di Sulawesi
Pada hari Jumat, 3 Oktober 2025, Universitas Hasanuddin mengadakan kuliah tamu bertajuk “Perubahan Iklim dan Dampaknya terhadap Bencana Hidrometeorologi di Wilayah Sulawesi.” Acara ini berlangsung di Ballroom Gedung Sains dari pukul 09.30 hingga 11.30 WITA, dan dihadiri oleh sekitar 50 peserta, yang terdiri atas mahasiswa, dosen, serta kalangan profesional. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Departemen Geofisika bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pembicara utama dalam kuliah tamu ini adalah Muflihah, S.Pd., M.Si., selaku Kepala Tim Kerja Klimatologi BMKG Wilayah IV Makassar. Dalam paparannya, Muflihah menyoroti meningkatnya dampak perubahan iklim, khususnya di wilayah Sulawesi, di mana kejadian cuaca ekstrem seperti curah hujan tinggi dan anomali suhu kini semakin sering terjadi. Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2024, suhu rata-rata global meningkat hingga 1,55°C, tertinggi sejak masa pra-industri, yang menjadi sinyal jelas adanya pergeseran signifikan dalam pola iklim dunia.
Muflihah juga menekankan meningkatnya frekuensi kejadian cuaca ekstrem di Sulawesi. Peningkatan suhu dan curah hujan berlebih berkontribusi terhadap munculnya bencana banjir besar di berbagai daerah. Sebagai contoh, pada tahun 2022, curah hujan di beberapa wilayah tercatat melebihi 150 mm per hari, yang secara langsung berkaitan dengan meningkatnya intensitas banjir besar, termasuk di wilayah Bali dan Maros.
Selain membahas dampak, kuliah tamu ini juga menyoroti solusi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Muflihah mengajak seluruh peserta untuk berperan aktif dalam berbagai inisiatif yang bertujuan mengurangi dampak pemanasan global. Salah satu upaya tersebut adalah Sekolah Iklim BMKG, program edukasi masyarakat agar lebih memahami dan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Sesi ini juga diisi dengan diskusi dan tanya jawab interaktif, di mana para peserta menanyakan strategi penanggulangan bencana hidrometeorologi serta pentingnya data iklim yang akurat dalam upaya kesiapsiagaan bencana.
Menutup sesi kuliah, Muflihah menegaskan pentingnya aksi kolektif dalam menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, tanggung jawab untuk menanggulangi krisis iklim tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama — individu, komunitas, dan institusi. Ia juga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan platform daring BMKG seperti cuaca.bmkg.go.id dan iklim.bmkg.go.id untuk memperoleh informasi terkini serta meningkatkan kesiapsiagaan.
Acara ditutup dengan pembagian e-sertifikat kepada para peserta sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam memahami dan mencari solusi terhadap tantangan perubahan iklim. Melalui kegiatan semacam ini, Universitas Hasanuddin terus berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran dan mendorong langkah nyata menuju masa depan yang berkelanjutan.