Pertemuan Internasional Critical Heritage Studies & Digital Heritage di Makassar
Makassar, 14–16 Juli 2026 — Program Studi Arkeologi Universitas Hasanuddin menjadi tuan rumah International Networking Meeting bertema Critical Heritage Studies & Digital Heritage. Pertemuan ini berlangsung di Unhas Hotel Makassar dengan agenda lapangan di Fort Rotterdam dan Kawasan Kota Tua Makassar.
Kegiatan yang diikuti oleh peneliti, praktisi museum, serta staf Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) ini membahas dua perspektif utama: Critical Heritage Studies yang menekankan bahwa warisan budaya adalah proses sosial-politik yang senantiasa diproduksi dan diperdebatkan, serta Digital Heritage yang menyoroti bahwa setiap keputusan digitalisasi adalah desain dengan konsekuensi etis dan praktis.
Hari pertama difokuskan pada pemetaan pemangku kepentingan dan kerangka kritis dalam memahami warisan, termasuk konsep Authorised Heritage Discourse (Laurajane Smith) dan dinamika dissonant serta difficult heritage. Hari kedua mengubah kerangka tersebut menjadi pertanyaan desain digital, dengan menekankan prinsip FAIR dan CARE dalam pengelolaan data. Hari ketiga, peserta menguji kedua perspektif melalui studi lapangan di Fort Rotterdam dan Makassar Old Town, menyoroti bagaimana situs kolonial ini dipahami, ditafsirkan, dan diakses oleh masyarakat maupun institusi.
Pertemuan ini juga menghadirkan pemikiran Prof. Suzie Thomas dan Prof. Piraye Hacıgüzeller, yang memberi landasan akademik sekaligus refleksi praktis bagi peserta. Dengan pendekatan kolaboratif, kegiatan ini diharapkan memperkuat kapasitas akademisi dan praktisi Indonesia dalam menghubungkan teori kritis dengan praktik digital heritage, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan warisan budaya.
