SARJANA SASTRA INDONESIA
Dosen Sastra Indonesia FIB Unhas Ambil Bagian dalam Antologi Nasional Seabad Asrul Sani
Administrator · 19 Juli 2026

Dosen Sastra Indonesia FIB Unhas Ambil Bagian dalam Antologi Nasional Seabad Asrul Sani

MAKASSAR — Dua dosen Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas), Inriati Lewa dan Syahwan Alfianto Amir, berkontribusi dalam penerbitan buku Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia. Kehadiran keduanya dalam antologi tersebut menjadi bagian dari kontribusi akademisi Unhas dalam pengembangan kajian sastra Indonesia di tingkat nasional.

Buku setebal 1.784 halaman yang terbagi dalam dua jilid itu diterbitkan oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) untuk memperingati satu abad kelahiran sekaligus setahun peringatan Asrul Sani.

Antologi tersebut disunting oleh Novi Anoegrajekti, Yoseph Yapi Taum, Sastri Sunarti, Sudartomo Macaryus, Syauki Salahudin Sani, M. Yoesoef, dan Aprinus Salam. Penerbitannya merupakan hasil kerja sama HISKI dengan Pelaku Sanggar Pelakon yang dipimpin Mutiara Sani. Buku itu resmi diluncurkan di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, pada 10 Juni 2026.

Mengkaji Mantera Lewat Perspektif Eksistensialisme

Dalam buku tersebut, Inriati Lewa dan Syahwan Alfianto Amir menulis artikel berjudul "Wajah Puisi Indonesia di Tangan Asrul Sani" yang dimuat pada halaman 633–650 jilid pertama.

Artikel itu mengulas secara mendalam kumpulan puisi tunggal Asrul Sani, Mantera, yang pertama kali diterbitkan pada Februari 1975 oleh Budaja Djaja dan memuat 22 puisi.

Keduanya menempatkan Asrul Sani sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra Indonesia. Mereka mengingatkan bahwa H.B. Jassin memasukkan enam puisi Asrul Sani ke dalam Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi Jilid II, yakni "Anak Laut", "Surat dari Ibu", "Elang Laut", "Orang dalam Perahu", "Pengakuan", dan "Orang dari Gunung".

Menurut Inriati dan Syahwan, kekuatan puisi Asrul Sani terletak pada kedalaman refleksi yang disampaikan dengan bahasa yang tenang. Puisi-puisinya tidak mengandalkan ungkapan romantik berlebihan ataupun ledakan emosi, melainkan menghadirkan ruang perenungan mengenai manusia, zaman, dan realitas sosial.

Melalui pendekatan eksistensialisme, mereka mengkaji sejumlah puisi seperti "Anak Laut", "Elang Laut", "Wajah", "Untuk N", "Pengungsi", "Variasi atas Suatu Tanggapan-Sesaat", hingga "Mantera". Simbol-simbol seperti laut, senja, dan pengembaraan ditafsirkan sebagai representasi perjalanan manusia yang terus berada di antara harapan dan ketidakpastian.

Dalam simpulan artikelnya, kedua akademisi Unhas itu menegaskan bahwa puisi-puisi dalam Mantera merupakan dokumen estetik sekaligus dokumen kemanusiaan yang melampaui zamannya. Karya-karya tersebut dinilai mampu mempertemukan pergulatan eksistensial yang bersifat universal dengan konteks sosial-historis Indonesia, mulai dari masa pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, hingga periode pascakemerdekaan.

Kontribusi Akademisi Unhas

Keikutsertaan Inriati Lewa dan Syahwan Alfianto Amir dalam proyek penerbitan buku tersebut menunjukkan kiprah akademisi Universitas Hasanuddin dalam pengembangan kajian sastra Indonesia.

Bersama ratusan akademisi, budayawan, sastrawan, dan sineas dari berbagai daerah, keduanya turut berkontribusi merawat serta mewariskan pemikiran Asrul Sani, sastrawan Angkatan '45 yang bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin dikenal sebagai trio pembaru puisi Indonesia.

Penerbitan Seabad Setahun Asrul Sani merupakan bagian dari rangkaian peringatan yang digagas HISKI bersama Pelaku Sanggar Pelakon dan Perpustakaan Nasional RI. Kegiatan tersebut meliputi pameran, dialog budaya, pemutaran film, seminar nasional, hingga penerbitan buku sebagai upaya mendokumentasikan dan melestarikan warisan intelektual serta kebudayaan Asrul Sani bagi generasi mendatang. (*/)