Ketua IKA Sastra Indonesia FIB Unhas Saharuddin Ridwan Raih Gelar Doktor Ilmu Lingkungan
MAKASSAR — Saharuddin Ridwan, Ketua Ikatan Alumni (IKA) Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas), berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Lingkungan dari Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin setelah sukses mempertahankan disertasinya dalam Ujian Akhir Disertasi yang digelar pada Selasa (28/7/2026).
Di kalangan alumni dan sivitas akademika Sastra Indonesia FIB Unhas, Saharuddin lebih akrab disapa "Kak Bolong".
Ujian doktor berlangsung di Ruang Rapat GB Lantai 2 Kuku Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin mulai pukul 09.30 WITA. Pada kesempatan tersebut, ia mempresentasikan disertasi berjudul "Model Tata Kelola Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Universitas Hasanuddin."
Disertasi tersebut dibimbing oleh Dr. Eng. Ir. Irwan Ridwan Rahim, S.T., M.T. dan Dr. Ir. Darhamsyah, M.Si. Adapun tim penguji terdiri atas Dr. Mini Farida, S.T., M.Si., Prof. Baharuddin, S.T., M.Arch., Ph.D., Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, S.T., M.Phil., serta Prof. Dr. Eymal Bahsar Demmallino, M.Si.
Saat ini, sejak Juli 2023, Saharuddin mengemban amanah sebagai Direktur Utama Perseroda Kabupaten Maros. Dalam posisi tersebut, ia berfokus mendorong penguatan tata kelola perusahaan daerah yang profesional sekaligus mendukung pembangunan daerah.
Perjalanan pendidikannya dimulai di Kabupaten Sinjai. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 150 Sinjai (1984–1989), kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 3 Sinjai (1989–1992) dan SMA Negeri 1 Sinjai (1992–1994).
Setelah itu, ia menempuh pendidikan di Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin pada 1994–2000. Beberapa tahun kemudian, di tengah aktivitas profesionalnya, ia melanjutkan studi Magister Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Muhammadiyah Makassar pada 2013–2017.
Semangat belajar yang terus dipeliharanya mengantarkan Saharuddin melanjutkan pendidikan pada Program Doktor Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin hingga berhasil menyelesaikannya pada 2026.
Menghadirkan Model Tata Kelola Sampah Berkelanjutan
Keberhasilan meraih gelar doktor menjadi pencapaian akademik terbaru bagi Saharuddin yang selama ini dikenal sebagai praktisi lingkungan, aktivis sosial, jurnalis, sekaligus profesional di berbagai badan usaha milik daerah. Latar belakang keilmuannya di bidang sastra tidak menjadi penghalang untuk terus mengembangkan kapasitas akademik hingga berhasil menuntaskan pendidikan doktoral di bidang ilmu lingkungan.
Dalam disertasinya, Saharuddin mengangkat persoalan pengelolaan sampah sebagai salah satu tantangan utama yang dihadapi perguruan tinggi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, meningkatnya kesadaran terhadap isu keberlanjutan menuntut perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam penerapan praktik-praktik ramah lingkungan.
Ia menjelaskan bahwa berbagai persoalan lingkungan global, seperti perubahan iklim, pencemaran, meningkatnya produksi sampah, hingga hilangnya keanekaragaman hayati, membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi.
"Melalui konsep Green Campus, universitas didorong mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam seluruh aktivitas akademik maupun operasional kampus," jelas Direktur Utama PT Bumi Maros Sejahtera (Perseroda) tersebut.
Menurutnya, Universitas Hasanuddin sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di Indonesia Timur memiliki tanggung jawab besar untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Karena itu, penelitiannya bertujuan menyusun model tata kelola yang mampu menjawab kebutuhan tersebut sekaligus menjadi rujukan bagi perguruan tinggi lainnya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan menggabungkan analisis kuantitatif mengenai timbulan dan komposisi sampah di lingkungan kampus dengan analisis kualitatif terhadap kebijakan, regulasi, perilaku sivitas akademika, serta implementasi pengelolaan sampah yang telah berjalan.
Tahapan penelitian dilakukan secara sistematis melalui pemetaan kondisi eksisting kebijakan dan sistem pengelolaan sampah, penyusunan strategi berbasis prinsip keberlanjutan, analisis implementasi beserta faktor pendukung dan penghambat, hingga penyusunan model tata kelola yang komprehensif.
Hasil penelitian tersebut melahirkan konsep yang diberi nama "Model Unhas", yaitu model tata kelola pengelolaan sampah berkelanjutan yang mengintegrasikan empat aspek utama, yakni kebijakan dan regulasi, teknis operasional, kelembagaan, serta ekonomi sirkular.
Model tersebut diharapkan menjadi pedoman strategis bagi Universitas Hasanuddin dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan lingkungan. Selain itu, model ini juga menawarkan kerangka kerja yang dapat direplikasi oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam mendukung implementasi konsep kampus hijau.
Kiprah Panjang di Bidang Lingkungan
Keberhasilan akademik Saharuddin sejalan dengan rekam jejak panjangnya di bidang lingkungan hidup. Selama lebih dari dua dekade, ia aktif menginisiasi berbagai gerakan pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan bank sampah.
Dedikasinya di bidang tersebut mengantarkannya meraih berbagai penghargaan. Pada 2009, ia menerima Penghargaan Pejuang Lingkungan dari Wali Kota Makassar atas kontribusinya dalam mendorong gerakan kepedulian lingkungan di masyarakat.
Pada 2018, ia kembali memperoleh Penghargaan dari Gubernur Sulawesi Selatan atas kiprahnya dalam pengelolaan lingkungan. Pada tahun yang sama, ia juga menerima Penghargaan To Barania dari Wali Kota Makassar sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdiannya kepada masyarakat.
Selain aktif sebagai pegiat lingkungan, Saharuddin memiliki pengalaman panjang di dunia jurnalistik. Ia mengawali karier sebagai wartawan Harian Fajar pada periode 2000–2002, kemudian menjadi wartawan sekaligus koresponden PT Indosiar Visual Mandiri selama 2002–2012.
Pengalaman di dunia media membentuk kemampuannya dalam membangun komunikasi publik, yang kemudian menjadi modal penting saat terjun ke dunia organisasi sosial maupun pemerintahan.
Sejak 2008, Saharuddin menjabat sebagai Ketua Yayasan Peduli Negeri, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang aktif menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.
Pada periode 2017–2021, ia dipercaya sebagai Ketua Umum Asosiasi Bank Sampah Indonesia yang mendorong penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.
Di sektor badan usaha milik daerah, ia juga memiliki pengalaman yang panjang. Saharuddin pernah menjabat sebagai Ketua Badan Pengawas Perusda Rumah Potong Hewan Makassar pada 2016–2018, kemudian dipercaya sebagai Direktur Operasional PD Pasar Makassar Raya pada 2018–2021.
Berbekal pengalaman di bidang jurnalistik, organisasi sosial, lingkungan, dan manajemen perusahaan daerah, Saharuddin terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan. Raihan gelar doktor menjadi tonggak baru yang memperkuat kontribusinya dalam menghadirkan solusi ilmiah bagi pengelolaan lingkungan, khususnya di lingkungan perguruan tinggi. (*)