Unhas Inkubasi Pemuda Desa Garanta, Tanamkan Nilai Karakter Maritim Walenrenge bagi Generasi Muda
BULUKUMBA — Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin melalui Program Kemitraan Masyarakat (PPMU-PK-M) Tahun 2026 melaksanakan kegiatan bertajuk “Hilirisasi Nilai Karakter Maritim Walenrenge Melalui Inkubasi Pemuda Desa Garanta Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba” di Desa Garanta, Sabtu-Minggu, 13-14 Juni 2026.
Kegiatan tersebut secara resmi dibuka Sekretaris Desa Garanta, Hasanuddin, yang mewakili Kepala Desa Garanta, Muhammad Subair. Program ini bertujuan memperkuat karakter generasi muda melalui internalisasi nilai-nilai karakter maritim Walenrenge yang bersumber dari kearifan lokal masyarakat Bugis-Makassar.
Peserta yang berasal dari kalangan pemuda Desa Garanta mengikuti rangkaian kegiatan yang berfokus pada pengembangan karakter, kepemimpinan, serta pendalaman filosofi Walenrenge sebagai model pembentukan diri. Melalui kegiatan ini, para peserta didorong untuk mengaktualisasikan nilai-nilai budaya lokal sebagai landasan dalam membangun karakter yang kuat, adaptif, dan berdaya saing di tengah berbagai tantangan zaman.
Tim pengabdian diketuai Dr. Dra. St. Nursa’adah, M.Hum., dengan anggota Prof. Dr. A.B. Takko Bandung, M.Hum., Mutahharah Nemin Kaharuddin, S.S., M.Hum., serta mahasiswa pendamping Itrha Febrianta, Ilma Ratmiyanti, Syahrul Ramadhan, Azizah Az Zahrah, dan Ismail Basri.
Pada sesi pertama, Ketua Tim Pengabdian, St Nursa’adah, menyampaikan materi tentang penguatan karakter. Ia menegaskan, setiap manusia memiliki modal untuk meraih kesuksesan dan modal tersebut tidak selalu berbentuk materi. Menurutnya, kemauan merupakan modal utama yang harus dimiliki setiap individu.
“Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Kemauan untuk datang dan belajar merupakan langkah awal dalam mencapai cita-cita. Kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, bakat, atau kekayaan, tetapi juga oleh kemampuan mengambil keputusan, berani berkomunikasi, dan menghadapi tantangan,” ujarnya.
Selain kemauan, ia juga menekankan pentingnya lingkungan dalam membentuk karakter seseorang. Keluarga, sekolah, dan masyarakat dinilai memiliki peran besar dalam menanamkan nilai-nilai positif yang akan memengaruhi masa depan generasi muda.
Sementara itu, pada sesi kedua, Prof AB Takko Bandung memperkenalkan Model Walenrenge sebagai konsep pembentukan karakter yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal. Ia menjelaskan bahwa filosofi Walenrenge terinspirasi dari Epos La Galigo, khususnya kisah perjalanan Sawerigading dalam menemukan We Cudai.
Menurutnya, setiap individu memiliki The Alena atau model diri yang terbentuk dari apa yang dilihat, dibaca, dan dengan siapa seseorang berinteraksi. Proses mengenali diri menjadi langkah penting dalam membangun karakter yang kuat.
“Kenalilah dirimu sendiri. Dalam kearifan Bugis dikenal ungkapan Ajeppui alemu, muajeppui Puang-Mu, yang mengandung makna bahwa ketika seseorang mengenali dirinya, ia juga akan semakin mengenal Tuhannya,” jelasnya.
Ia menambahkan, manusia merupakan makhluk yang sempurna, baik secara fisik maupun akal. Namun, kehebatan manusia tidak hanya diukur dari kekayaan atau kemampuan yang dimiliki, melainkan dari kemampuannya menata kehidupan serta menjaga hubungan dengan Tuhan.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Takko Bandung juga menguraikan makna karakter maritim yang dirumuskan dalam akronim MARITIM, yakni Mandiri, Manusiawi, Arif, Religius, Inovatif, Tangguh, dan Berintegritas. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Salah seorang peserta, Musdalifa, mengajukan pertanyaan mengenai cara menjadikan seseorang sebagai motivasi tanpa harus membandingkan diri dengan orang tersebut, serta bagaimana menjaga semangat ketika usaha yang telah dilakukan belum membuahkan hasil sesuai harapan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Prof Takko, Guru Besar Sastra Indonesia Unhas ini menjelaskan, seseorang dapat menjadikan orang lain sebagai sumber inspirasi tanpa perlu melakukan perbandingan yang berlebihan. Menurutnya, setiap individu memiliki perjalanan hidup, kemampuan, dan waktu pencapaian yang berbeda-beda. Ia juga mengingatkan, kegagalan atau hasil yang belum sesuai harapan merupakan bagian dari proses pembelajaran dan penguatan diri menuju kesuksesan.
Model WELENRENGGE
Model WELENRENGGE merupakan konsep pendidikan karakter yang bersumber dari nilai-nilai budaya Bugis-Makassar, khususnya yang terkandung dalam epos I La Galigo, terutama episode Sawerigading Meraih Cita dan Cinta ke Tanah Cina. Model ini dikembangkan untuk menguatkan karakter masyarakat Indonesia melalui pendekatan budaya maritim yang selaras dengan visi Universitas Hasanuddin sebagai pusat pengembangan ilmu dan budaya berbasis Benua Maritim Indonesia.
Dalam model ini, istilah MARITIM bukan hanya merujuk pada laut, tetapi merupakan akronim dari tujuh nilai karakter utama, yaitu Manusiawi, Arif, Religius, Inovatif, Tangguh, Integritas, dan Mandiri.
Manusiawi menekankan pentingnya menghargai diri sendiri dan orang lain, sebagaimana falsafah Bugis sipakataudan sipakalebbi, yaitu saling memanusiakan, menghormati, dan memuliakan sesama.
Arif merupakan kemampuan mengambil keputusan yang bijaksana berdasarkan ilmu, kerendahan hati, kedisiplinan, pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan bersama.
Religius mencerminkan ketundukan dan ketaatan kepada Tuhan sebagai landasan moral dalam menjalankan kehidupan.
Inovatif menggambarkan kemampuan berpikir kreatif, menemukan cara baru, dan beradaptasi untuk menghadapi berbagai tantangan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya.
Tangguh menunjukkan keteguhan, keuletan, dan keberanian menghadapi berbagai rintangan, sebagaimana dicontohkan oleh Sawerigading dalam perjalanan panjang mengarungi lautan.
Integritas berarti keselarasan antara ucapan, tindakan, dan prinsip hidup, tercermin dalam kejujuran, tanggung jawab, serta keberanian memegang kebenaran (taro ada taro gau).
Mandiri adalah kemampuan mengandalkan kekuatan dan potensi diri sendiri dalam menghadapi berbagai tantangan tanpa bergantung kepada orang lain.
Secara keseluruhan, Model WELENRENGGE memadukan kearifan lokal Bugis-Makassar dengan nilai-nilai karakter universal sebagai landasan pembentukan generasi yang berbudaya, berakhlak, berdaya saing, dan memiliki semangat maritim dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.