SARJANA SASTRA INDONESIA
Menghidupkan Tradisi Lisan melalui Puisi, Siswa SMAN 9 Bulukumba Dilatih Mengadaptasi Langgam Tutur Lokal ke dalam Deklamasi Modern
Administrator · 14 Juni 2026

Menghidupkan Tradisi Lisan melalui Puisi, Siswa SMAN 9 Bulukumba Dilatih Mengadaptasi Langgam Tutur Lokal ke dalam Deklamasi Modern

BULUKUMBA-Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin melalui Program Kemitraan Masyarakat (PPMU-PKM) melaksanakan kegiatan bertajuk “Etnopuitika: Internalisasi Identitas Budaya melalui Pelatihan Adaptasi Langgam Tutur Sastra Lisan ke dalam Deklamasi Modern” bagi siswa SMAN 9 Bulukumba. Kegiatan berlangsung pada 12–13 Juni 2026 di SMAN 9 Bulukumba, Kelurahan Dannuang, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba.

Sebanyak 20 siswa mengikuti pelatihan ini. Tim pengabdian terdiri atas Faisal Oddang selaku ketua tim, Syahwan Alfianto Amir, Khairil Anwar, Andi Meirling, Dian Rahmawati Arif, dan Ilham. Kegiatan ini juga melibatkan dua mahasiswa, yakni Alifia Nur Dalsyinta dan Zalza Nur Fadillah HS. Dari pihak sekolah hadir Guru Bahasa Indonesia SMAN 9 Bulukumba, Andi Iswan Pangki, serta Kepala Kurikulum SMAN 9 Bulukumba, Abd. Qadri.

Acara diawali dengan penampilan tari penyambutan Paduppa yang dibawakan oleh siswa-siswi SMAN 9 Bulukumba yang aktif di lembaga seni sekolah, Asera. Penampilan tersebut menjadi pembuka.

Kepala Kurikulum SMAN 9 Bulukumba, Abd. Qadri, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan Universitas Hasanuddin kepada sekolahnya sebagai mitra kegiatan. Ia mengucapkan terima kasih kepada dosen-dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin yang telah memilih SMAN 9 Bulukumba sebagai lokasi pelaksanaan program. 

Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat penting untuk mendukung pengembangan kemampuan literasi dan apresiasi budaya siswa. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang telah direncanakan.

Kekayaan Sastra Lisan

Program ini bertujuan memperkenalkan kembali kekayaan sastra lisan Sulawesi Selatan kepada generasi muda melalui pendekatan kreatif yang menghubungkan tradisi tutur dengan praktik pembacaan puisi modern. Melalui pelatihan ini, peserta diajak memahami berbagai langgam tutur sastra lisan sebagai sumber inspirasi sekaligus strategi estetis dalam deklamasi puisi.

Ketua Tim Pengabdian, Faisal Oddang, menjelaskan, di Sulawesi Selatan, hidup tradisi lisan dengan teknik tutur yang beragam. “Untuk konteks pembacaan puisi, keragaman tersebut bisa menjadi pendekatan sekaligus strategi estetis," jelasnya. 

Dalam sesi materinya, Faisal yang merupakan dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin sekaligus sastrawan ini sudah menulis dua buku puisi yaitu, Manurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama dan Perkabungan untuk Cinta.

Kata dia, puisi pada hakikatnya hadir sebagai bunyi dan bentuk. Ia juga membagikan pengalaman riset naskah La Galigo yang dilakukannya di Belanda pada tahun 2016 dan kemudian menjadi salah satu pijakan kreatif dalam penulisan buku puisinya Manurung yang terbit pada 2017.

Menurut Faisal, puisi sesungguhnya hadir di sekitar kehidupan sehari-hari. Namun, sering kali manusia tidak menyadari keberadaannya atau lupa memberikan nama pada pengalaman-pengalaman puitik yang mereka jumpai. Karena itu, memahami puisi tidak cukup hanya melalui teks, tetapi juga melalui pengalaman budaya dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat.

Materi berikutnya disampaikan Syahwan Alfianto Amir yang menekankan, membaca puisi merupakan seni menyampaikan karya sastra kepada pendengar dengan cara yang estetik, bermakna, dan penuh penghayatan. 

Berbeda dengan membaca biasa, pembacaan puisi menuntut kemampuan untuk menginterpretasi makna yang terkandung dalam teks serta menghadirkannya kembali melalui suara, ekspresi, dan gestur.

Ia menjelaskan, puisi merupakan bentuk pengucapan bahasa yang sangat mempertimbangkan aspek bunyi serta pengungkapan nonbahasa yang memperhitungkan lapis-lapis makna dari pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair. 

Pengalaman tersebut dapat bersumber dari kehidupan personal yang intim maupun realitas sosial yang universal. Meski terus terbuka terhadap perkembangan pengetahuan, teknologi, dan berbagai eksperimen bentuk, puisi tetap memiliki karakter khas yang membedakannya dari bentuk ekspresi lainnya.

Syahwan menegaskan, seorang pembaca puisi yang baik tidak hanya membaca kata demi kata, tetapi juga mampu menghidupkan puisi sehingga pendengar dapat merasakan emosi, imajinasi, suasana, dan pesan yang ingin disampaikan oleh penyair. 

Karena itu, pembacaan puisi bertujuan menyampaikan makna secara efektif, menampilkan estetika bahasa dan bunyi, membangkitkan emosi pendengar, menghormati karya penyair melalui interpretasi yang tepat, sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian tradisi sastra lisan.

Dalam sesi praktik, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai strategi membaca puisi, mulai dari melatih artikulasi vokal agar suara terdengar jelas, memahami makna puisi sebelum tampil, menandai jeda dan intonasi dalam teks, melatih ekspresi di depan cermin, hingga menjaga teknik pernapasan agar suara tetap stabil selama pembacaan. (*/)