SARJANA ARKEOLOGI
Membentuk Masa Depan Warisan Budaya: Pakar UNHAS Merumuskan Kembali Konservasi Museum di Sulawesi Selatan
Administrator · 16 Mei 2026

Membentuk Masa Depan Warisan Budaya: Pakar UNHAS Merumuskan Kembali Konservasi Museum di Sulawesi Selatan

MAKASSAR — Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulawesi Selatan secara resmi menggandeng para pakar dari Departemen Arkeologi Universitas Hasanuddin untuk memimpin studi kelayakan pemugaran di empat museum bersejarah paling berpengaruh di kawasan ini: Museum La Galigo, Museum Kota Makassar, Museum Balla Lompoa Gowa, dan Museum Daerah Maros.
Agenda krusial ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai tanggal 16 hingga 18 Mei 2026, dipandu langsung oleh Tim Kerja Pemugaran BPK Sulawesi Selatan bersama para akademisi. Langkah strategis tersebut menandai babak baru dalam integrasi riset akademis dengan kebijakan pelestarian cagar budaya publik di Indonesia.

Mengapa Pemugaran Ini Penting?

Museum bukan sekadar ruang penyimpanan barang antik, melainkan episentrum pengetahuan publik. Melalui rangkaian Focus Group Discussion (FGD) yang digelar secara intensif sepanjang tiga hari pelaksanaan kegiatan, tim ahli dari UNHAS bertindak sebagai narasumber utama untuk memetakan cetak biru (blueprint) pemugaran yang berbasis pada standar konservasi internasional.
Studi ini bertujuan memastikan bahwa proses pemugaran tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga menjaga otentisitas nilai sejarah, arkeologis, dan antropologis yang dikandungnya.

Sinergi Multidisiplin Ahli UNHAS

Untuk menjawab tantangan pelestarian yang kompleks, UNHAS menurunkan para pakar lintas disiplin yang terbagi ke dalam tiga fokus area strategis:  
  1. Konservasi Sejarah Maritim & Kota: Drs. Laode Muh. Aksa, M.Hum. dan Yusriana, M.A. mengawal arah pemugaran Museum La Galigo dan Museum Kota Makassar untuk memastikan narasi sejarah kota dan maritim tetap terjaga dengan utuh.  
  2. Revitalisasi Arsitektur Tradisional: Dr. Supriadi, M.A. memimpin kajian untuk Museum Balla Lompoa Gowa, memastikan pemugaran istana kayu khas rekonstruksi budaya Gowa tetap mempertahankan struktur vernakular aslinya.  
  3. Pelestarian Kawasan Prasejarah: Dr. Yadi Mulyadi, M.A. memfokuskan keahliannya pada Museum Daerah Kabupaten Maros, yang menjadi gerbang penting bagi pengetahuan arkeologi prasejarah karst Maros-Pangkep.  
Kerja sama ini juga diperkuat oleh sinergi multidisiplin antara arkeolog FIB UNHAS dan jajaran ahli teknik sipil serta arsitektur.