SARJANA SASTRA BUGIS MAKASSAR
Aksara Lontara Menembus Batas: Departemen Sastra Daerah FIB Unhas Berbagi Literasi Bugis-Makassar di Universiti Malaya
Administrator · 26 Agustus 2026

Aksara Lontara Menembus Batas: Departemen Sastra Daerah FIB Unhas Berbagi Literasi Bugis-Makassar di Universiti Malaya

KUALA LUMPUR — Deretan simbol Aksara Lontara menjadi pintu masuk bagi peserta untuk mengenal salah satu warisan literasi tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Melalui kegiatan Benchmarking dan Pengabdian kepada Masyarakat, Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkenalkan strategi membaca dan menulis Aksara Lontara di Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya.

Mengusung tema “Pengenalan dan Strategi Membaca dan Menulis Aksara Lontara”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum akademik, tetapi juga ruang pembelajaran lintas budaya. Peserta diajak memahami Aksara Lontara sebagai sistem literasi tulis tradisional yang merekam jejak pengetahuan dan peradaban masyarakat Bugis-Makassar.

Dalam sesi pengenalan, peserta memperoleh penjelasan mengenai bentuk dan karakter dasar Aksara Lontara, termasuk prinsip-prinsip pembacaan dan penulisannya. Setelah memahami dasar-dasar tersebut, peserta kemudian diperkenalkan pada strategi praktis untuk membaca dan menulis aksara secara bertahap.

Pendekatan ini dipilih untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih langsung. Aksara Lontara tidak hanya diperkenalkan sebagai objek sejarah atau artefak budaya masa lalu, tetapi sebagai bagian dari tradisi literasi yang masih dapat dipelajari dan dikembangkan dalam konteks masa kini.

Bagi masyarakat Bugis-Makassar, Aksara Lontara memiliki kedudukan penting dalam perjalanan sejarah dan kebudayaan. Melalui sistem tulis ini, berbagai pengetahuan dan pengalaman masyarakat diwariskan dalam bentuk catatan sejarah, sastra, silsilah, hukum adat, serta beragam kearifan lokal.

Kegiatan di Universiti Malaya tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Selatan ke ruang akademik internasional. Departemen Sastra Daerah FIB Unhas memanfaatkan momentum ini untuk memperluas pemahaman mengenai keragaman tradisi literasi di kawasan Nusantara.

Selain pengabdian kepada masyarakat, pelaksanaan benchmarking membuka ruang pertukaran gagasan antara Departemen Sastra Daerah FIB Unhas dan Akademi Pengajian Melayu Universiti Malaya. Kedua pihak membahas pengalaman dan peluang pengembangan kajian bahasa, sastra, aksara, serta kebudayaan Melayu dan Nusantara.

Pertukaran tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas, termasuk dalam bidang penelitian bersama, publikasi ilmiah, pertukaran akademik, dan program pelestarian warisan budaya.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian aksara tradisional memerlukan strategi baru agar tetap dekat dengan generasi masa kini. Pembelajaran yang interaktif dan aplikatif menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlanjutan Aksara Lontara sebagai bagian dari identitas budaya Bugis-Makassar.

Melalui kegiatan tersebut, Departemen Sastra Daerah FIB Unhas membawa satu pesan penting: warisan literasi tidak harus berhenti sebagai koleksi masa lalu. Dengan pembelajaran, kolaborasi, dan perjumpaan lintas budaya, Aksara Lontara dapat terus hidup, dibaca, ditulis, dan dikenalkan melampaui batas wilayah asalnya.

Kegiatan di Akademi Pengajian Melayu Universiti Malaya pun menjadi langkah nyata dalam mempertemukan tradisi literasi Bugis-Makassar dengan masyarakat akademik internasional, sekaligus membuka jalan bagi penguatan hubungan budaya antara Indonesia dan Malaysia.