SARJANA SASTRA INDONESIA
Sastra sebagai Perekam Zaman
Administrator · 24 April 2026

Sastra sebagai Perekam Zaman

MAKASSAR – Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar kuliah umum bertajuk “Relevansi Sastra sebagai Pencatat Dinamika Zaman” pada Kamis, 23 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Mattulada ini menghadirkan Dr. Ibnu Wahyudi, akademisi dari Universitas Indonesia (UI) sekaligus sastrawan, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Ibnu Wahyudi menegaskan bahwa sastra bukan sekadar produk imajinasi, melainkan medium yang mampu merekam realitas sosial sekaligus perkembangan teknologi dari masa ke masa. Ia mencontohkan bagaimana ponsel, yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda, telah menjadi inspirasi dalam karya sastra kontemporer.

Salah satu poin menarik dalam kuliah tersebut adalah ulasan terhadap puisi karya Joko Pinurbo berjudul “Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya”.

Tuhan, ponsel saya

rusak dibanting gempa.

Nomor-nomor kontak saya hilang semua.

Satu-satunya yang tersisa

ialah nomorMu.

 

Tuhan, ponsel saya

rusak dibanting gempa.

Nomor-nomor kontak saya hilang semua.

Satu-satunya yang tersisa

ialah nomorMu.


Menurutnya, puisi tersebut berhasil merefleksikan dinamika kehidupan modern, di mana manusia semakin dikuasai perangkat digital hingga kerap mengabaikan relasi spiritual dan kedekatan dengan alam.

Ibnu Wahyudi menyitir bait puisi yang menggambarkan ironi ketika seseorang kehilangan seluruh kontak akibat ponsel rusak, namun justru menyadari bahwa satu-satunya “nomor” yang tersisa yakni Tuhan adalah yang paling jarang dihubungi.

“Sastra mencatat bagaimana ponsel kini begitu menguasai kehidupan manusia,” ujarnya di hadapan para mahasiswa.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa peran sastra sebagai pencatat perkembangan teknologi telah berlangsung sejak lama. Ia membandingkan karya sastra era 1940-an yang merekam penggunaan telepon putar dengan kondisi saat ini, ketika ponsel pintar mendominasi kehidupan sehari-hari.

Ia juga menyinggung keberadaan karya sastra pra-Balai Pustaka, termasuk sebuah buku terbitan tahun 1857 yang ditemukan di Leiden. Karya tersebut menjadi bukti bahwa jauh sebelum era Balai Pustaka pada 1920-an, kesadaran literasi telah berkembang di Indonesia, baik di kalangan pribumi, keturunan Tionghoa, maupun penulis asing.

Menurutnya, buku tersebut menekankan pentingnya membaca dan menulis sebagai sarana memahami masa lalu sekaligus memproyeksikan masa depan. Namun, ia menegaskan bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan teknis semata, melainkan juga pada kemampuan berpikir kritis dalam melihat arah perkembangan zaman.

Hal ini selaras dengan tema kuliah umum yang menempatkan sastra sebagai pencatat dinamika zaman. Melalui karya sastra, manusia tidak hanya mendokumentasikan realitas—seperti penggunaan telepon di masa lalu atau ketergantungan pada ponsel saat ini—tetapi juga membangun landasan pengetahuan untuk membaca kemungkinan masa depan.

Dalam kesempatan tersebut, Ibnu Wahyudi juga menjelaskan pembagian sastra secara konvensional, yaitu:

Sastra serius: mengedepankan orisinalitas, berorientasi pada kualitas, serta membangun citra diri penulis.

Sastra populer: berorientasi pada selera pasar dan pembaca, dengan citra diri penulis bukan menjadi prioritas utama (sering menggunakan nama samaran).

Ia juga mencontohkan bahwa sastra dapat menjadi medium untuk mengungkapkan berbagai ekspresi, termasuk perasaan cinta, salah satunya melalui puisi karya WS Rendra berjudul “Hai, Kamu”:

Luka-luka di dalam lembaga,
intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
noda di dalam pergaulan antar manusia,
duduk di dalam kemacetan angan-angan.
Aku berontak dengan memandang cakrawala.

Jari-jari waktu menggamitku.
Aku menyimak kepada arus kali.
Lagu margasatwa agak mereda.
Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.

Ia menambahkan bahwa puisi juga dapat dimaknai secara kreatif. Misalnya, jika dibaca secara vertikal, puisi tersebut dapat membentuk nama “LINDA JALIL”, yang menunjukkan bahwa puisi bisa menjadi ungkapan perasaan kepada seseorang yang disukai.

Kegiatan ini dihadiri ratusan mahasiswa serta sejumlah akademisi, di antaranya Ketua Departemen Sastra Indonesia FIB Unhas Dr. Dra. Muslimat, M.Hum., Sekretaris Departemen Dr. Indarwati, S.S., M.Hum., serta Prof. Dr. Munira Hasjim, S.S., M.Hum., dosen Sastra Indonesia yang juga menjabat sebagai Kepala Perpustakaan Pusat Unhas. (*)